Launching program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bertajuk kegiatan “Proyek Kemanusiaan Membangun Desa Badui” sukses dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Gedung FISIP Sindang Sari, Senin (7/10/2024).
Kegiatan yang baru pertama kali diluncurkan ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan Indikator Kerja Utama (IKU) FISIP. Adapun tiga program studi yang terlibat yaitu Ilmu Pemerintahan, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi.
“MBKM itu kan sebetulnya programnya nasional ya. Jadi ini (proyek kemanusiaan) kami laksanakan untuk menunjang program peningkatan IKU fakultas. Ada 3 Prodi yang ikut yaitu IP, AP, dan Ikom. Itu sebetulnya untuk meningkatkan IKU, jadi memang program wajib sebetulnya,” jelas Nurprapti Wahyu Widyastuti, Wakil Dekan I FISIP, Senin (7/10/2024).
Nurprapti menceritakan perjuangan keras FISIP untuk mewujudkan proyek kemanusiaan ini. Dua tahun lalu, kegiatan sejenis terealisasi saat Untirta memenangkan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM). Namun, jika dulu dananya berasal dari kementerian, kini FISIP merintisnya sendiri.
“Saya merintis ini dari 3 bulan yang lalu. Karena sesuatu yang baru, belum pernah ada sebelumnya. Jadi makanya saya sangat senang itu bisa terwujud, karena perjuangan panjang. Kita Pionir (proyek kemanusiaan) alhamdulillah, di FISIP baru. Dua tahun lalu memang pernah ada, tetapi bukan yang akan secara reguler dilakukan, ketika kita menang Program Kompetisi Kampus Merdeka. Itu dananya dari kementerian, nah kalau ini benar-benar kita merintis dari FISIP sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proyek ini dapat menjembatani ide-ide dosen, yang nantinya akan berkolaborasi dengan mahasiswa sesuai fokus program studi masing-masing.
Sebagai orang yang bergerak di ranah budaya, sosial, dan politik, dosen Ilmu Komunikasi tersebut ingin masyarakat FISIP bertanggung jawab terhadap perkembangan wilayah dan sosial budaya. Dia ingin FISIP memiliki body corner dengan memiliki semua data riset masyarakat adat Banten.
“Kita kan orang FISIP yang belajar budaya, sosial, politik. Sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap perkembangan wilayah dan sosial budaya adalah Untirta sebagai perguruan tinggi negeri. Pusat studi kebantenan atau studi budaya itu malah dari wilayah lain. Melalui kegiatan ini kedepannya saya mewakili FISIP, ingin FISIP punya body corner sendiri, yang semua data riset nyarinya di FISIP. Kita akan membuat FISIP jadi pusat data masyarakat adat Banten. Nah saya inginnya setiap semester ada kegiatan seperti ini,” imbuh Nurprapti.
Tak hanya dilatarbelakangi Banten yang identik dengan masyarakat adat, alasan dibalik proyek ini karena adanya isu megathrust. Banten akan sangat terdampak bencana tersebut sehingga Baduy dan Bayah dipilih sebagai lokasi awal yang akan dilakukan edukasi terkait mitigasi bencana. Akan tetapi untuk lokasi Bayah, FISIP harus antri dan kemungkinan baru akan bisa sekitar tanggal 26 oktober 2024.
Proyek kemanusiaan ini akan berjalan selama satu semester atau efektifnya 4 bulan. Diawali dengan berbagai tahapan seperti menanamkan gagasan, mencari informasi untuk menemukan kasus atau memahami fenomena, hingga menawarkan ide untuk kemajuan atau pemecahan masalah.
Diketahui mahasiswa mulai berangkat ke Baduy tanggal 8 Oktober 2024. Mereka akan menetap sekitar seminggu untuk mendapatkan gambaran program yang akan dibuat. Kemudian kembali ke kampus untuk berdiskusi, membuat blue print, project, laporan case-study, dan lainnya. Nurprapti melanjutkan, setelah itu, barulah mereka menjalankan proses implementasi.
Di tengah kabar dosen yang tidak mengizinkan mata kuliahnya dikonversi, Nurprapti membantah proyek ini dilakukan secara mendadak dan tidak berkoordinasi dengan pihak terkait. Ia menegaskan tidak boleh ada dosen yang tidak mendukung apalagi mempersulit mahasiswa.
“Sebetulnya dari fakultas, publikasi itu sudah lama. Dalam setiap rapat sudah (disinggung), cuma mungkin kan tingkat konsentrasi, penyerapan, dan sebagainya. Jadi tidak boleh lho yang namanya dosen atau kaprodi tidak support. Ini program fakultas, dan programnya sudah dijalankan lama. Ada briefing online, briefing offline, launching. Mungkin karena kita semua sibuk (akreditasi Untirta), agak keselip kali ya komunikasi dan koordinasinya,” ungkapnya.
Dengan tawaran konversi 20 SKS, proyek kemanusiaan ini dapat menjadi solusi termasuk bagi mahasiswa yang tidak lolos MSIB batch 7. Selain itu, dapat juga dijadikan tugas pengganti skripsi.
Nurprapti menaruh harapan besar atas proyek kemanusiaan ini, terutama agar meninggalkan jejak manfaat bagi pihak yang terlibat dan mengharumkan nama FISIP Untirta.
“Harapannya banyak, yang jelas, saya mau menjadi teman buat teman-teman dosen dan mahasiswa belajar. Jadi harapannya, perjuangan yang panjang ini punya manfaat bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat di sana. Saya ingin FISIP itu terkenal dan kita bangga dengan FISIP. Untirta namanya terkenal sebagai pusat studi kebantenan, pusat studi budaya, pusat studi baduy. Menghidupkan sesuatu yang belum ada kan tidak gampang. Yang penting kita kerja dengan baik, namanya usaha, berorganisasi, pasti kanan kiri ada yang tidak suka itu wajar,” ucapnya.
Antusiasme hadir dikalangan mahasiswa FISIP dalam menyambut proyek ini. Salah satunya Sofiyan, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2022 yang merasa tertarik untuk turut serta karena merasa bosan selama lima semester hanya kuliah di dalam kelas.
“Selain tawaran konversi 20 SKS, yang membuat saya tertarik untuk mengikuti program kemanusiaan FISIP ke Baduy dan Bayah adalah karena saya merasa bosan kuliah di dalam kelas selama lima semester ini. Makanya ketika saya melihat flayer proyek kemanusiaan ini, saya tertantang untuk mencoba keluar dari zona nyaman belajar di kelas,” kata Sofiyan saat diwawancarai via whatsapp, senin (7/10/2024).
Berbeda dengan Sofiyan, Dhea Nurhaliza, yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2022 merasa tertarik bergabung dalam proyek ini karena dirinya menyukai hal-hal berbau sosial. Selain tidak memiliki kesibukan padat, Bayah juga dekat dengan lokasi rumahnya. Alasan lainnya karena ia tidak lolos MSIB Batch 7.
“Berbaur dengan masyarakat itu aku suka, ditambah saat ini ngga ada kesibukan. Hal kedua karena aku taunya kegiatannya di Bayah yang deket sama kampung aku, jadi semakin tertarik. Yang ketiga karena ngga keterima MSIB, jadi tuh ibaratnya meluapkan emosi,” ujarnya (7/10/2024).
Namun, menurut Dhea, persiapan yang dilakukan pihak FISIP terlihat kurang matang. Mereka berulang-ulang membahas hal yang sama dan tidak menjelaskan detail outputnya. Selain itu, kurang ada sosialisasi terkait kelompok, konversi mata kuliah, dan lokasi tetap.
“Sosialisasi disitu-situ aja, ngga dikasih tau outputnya apa. Bukan berarti aku menggurui para petinggi-petinggi yang menyiapkan ini, cuma yang aku lihat tidak sematang itu. Karena mungkin waktunya juga terbatas kali ya, jadi ya seadanya. Tapi sejauh ini overall semuanya fine fine aja, walaupun ada crush sedikit, kaya pembagian kelompok yang telat, pengonfimasian konversi, (awalnya) di Bayah dan Baduy tetapi tiba-tiba di Baduy aja, jadi kenapa ngga di-announce dari awal,” katanya.
Namun, ia mengaku tetap excited meskipun tak ada persiapan khusus untuk mengikuti proyek kemanusiaan ini. Sementara itu, karena tidak pernah mengunjungi Baduy, Sofiyan mempersiapkan diri dengan membaca berita dan menonton video kunjungan orang ke Baduy untuk mendapatkan gambaran umum dan mengisi wawasan.
Dhea berharap Untirta dapat menyusul UMY dalam menyukseskan program MBKM ini. Ia juga berharap persiapannya lebih matang dan FISIP dapat menciptakan proyek kemanusiaan lain agar tidak hanya terkenal secara politik, tetapi juga dari segi sosial.
“Pasti harapan kedepannya FISIP bisa menyusul UMY, karena MBKM kaya gini UMY udah sampai beberapa batch. Persiapannya lebih matang lagi dan kedepannya kita bisa menciptakan proyek-proyek kemanusiaan yang lebih wow, biar FISIP tuh terkenal juga sosialnya, ngga politik doang,” ucapnya.
Di sisi lain, Sofiyan berharap program ini terus eksis di tahun-tahun berikutnya dan menjadi wadah mahasiswa FISIP untuk berdampak ke masyarakat.
“Aku harap program ini bisa terus berjalan tidak hanya di tahun ini, dan semoga bisa menjadi wadah bagi mahasiswa fisip dalam meningkatkan kapasitas kita sebagai mahasiswa fisip yang ada di Banten, serta bisa mendharmabhaktikan ilmu yang kita dapatkan di kampus ke masyarakat sekitar, khususnya saudara kita yang ada di Baduy dan Bayah,” jelasnya.
Penulis: Nadia, Aidah