Serang— Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius yang dihadapi masyarakat Kampung Kubang Bahad, Desa Kubang Puji, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten. Tumpukan sampah rumah tangga yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar mencerminkan persoalan klasik yang belum sepenuhnya terurai, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat hingga keterbatasan pemahaman mengenai pengelolaan sampah yang tepat. Menanggapi kondisi tersebut, Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 57 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Tahun 2026 menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah pada Selasa, 13 Januari 2026.
Mengusung tema “Sampah Bukan Musuh: Edukasi Pemilahan dan Pemanfaatan Sampah agar Bernilai Ekonomi”, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam menjawab persoalan lingkungan di tingkat desa. Sosialisasi ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bersama bagi masyarakat untuk memahami sampah secara lebih utuh bukan sekadar limbah yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang dapat dikelola dan dimanfaatkan.
Program kerja ini berangkat dari hasil observasi lapangan yang dilakukan oleh Kelompok KKM 57 selama masa awal pengabdian. Sampah rumah tangga yang belum terkelola dengan baik, kebiasaan membuang sampah sembarangan, serta minimnya pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi gambaran nyata permasalahan di Kampung Kubang Bahad. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga erat kaitannya dengan pola pikir dan perilaku masyarakat.
Ketua Kelompok KKM 57 Untirta, Verrel Atha Daniswara, menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan kegiatan, pihaknya telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kepala Desa Kubang Puji untuk memastikan program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Kami melihat bahwa persoalan sampah di Kampung Kubang Bahad bukan masalah baru, tetapi masih terus berulang. Karena itu, kami merasa perlu menghadirkan program yang bersifat edukatif dan berkelanjutan,” ujarnya (29/12/2025).
Kepala Desa Kubang Puji, Juju Setiadi, turut mengonfirmasi bahwa sampah merupakan permasalahan utama yang masih dihadapi desanya. “Di desa ini yang menjadi
permasalahan utamanya itu sampah, masyarakat masih kurang mampu untuk mengelola dan menjaga kebersihan lingkungan,” tuturnya. Ia menambahkan, “Sebenarnya sudah ada upaya dari dulu, cuma masih kurang berhasil penanganannya ke masyarakat,” (29/12/2025). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan sampah membutuhkan pendekatan yang lebih menyentuh aspek kesadaran dan pemahaman masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, sosialisasi ini menghadirkan Dr. Dewi Murni, S.Si., M.Si. sebagai pemateri utama. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan jenis-jenis sampah, pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah, hingga peluang pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomi. Masyarakat diajak untuk memahami bahwa sampah organik dan anorganik memiliki karakteristik yang berbeda serta memerlukan penanganan yang berbeda pula.
Dr. Dewi Murni menekankan bahwa sampah merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia yang tidak dapat dihindari, namun dampaknya dapat diminimalkan melalui pengelolaan yang tepat. “Sampah bukanlah musuh manusia. Ia akan menjadi masalah ketika kita tidak memahami cara mengelolanya. Jika dipilah dan dimanfaatkan dengan benar, sampah justru dapat menjadi sumber daya yang bernilai, baik bagi lingkungan maupun perekonomian masyarakat,” jelasnya (13/01/20216). Menurutnya, kunci utama pengelolaan sampah terletak pada perubahan pola pikir dan kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pelaksanaan pretest dan posttest kepada peserta sosialisasi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat sebelum dan setelah kegiatan berlangsung. Melalui metode ini, KKM 57 berharap dapat mengetahui sejauh mana materi yang disampaikan mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah secara bijak.
Sosialisasi ini tidak hanya menekankan aspek lingkungan, tetapi juga menyoroti potensi ekonomi dari pengelolaan sampah. Masyarakat diperkenalkan pada konsep pemanfaatan sampah sebagai bahan baku produk bernilai jual, seperti kerajinan dari sampah anorganik atau pengolahan sampah organik menjadi kompos. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kelompok KKM 57 Untirta berharap dapat menjadi pemantik perubahan, baik dalam cara pandang maupun perilaku masyarakat terhadap sampah. Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Kubang Bahad.
Pada akhirnya, upaya menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab segelintir pihak, melainkan tanggung jawab bersama. Melalui pemahaman yang baik tentang pengelolaan sampah, setiap individu memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Sebab, dari desa yang peduli terhadap sampah, lahir masa depan lingkungan yang lebih Lestari bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.