Perjuangan para pahlawan pada masa lampau pastinya mengorbankan segenap asa dan daya juang yang tidak murah harganya. Hingga saat ini, perjuangan tersebut bisa kita rasakan dampaknya. Segala keindahan dan kerunyaman bangsa ini tak luput dari peran para pahlawan pada masa lampau.
Segala penjuru daerah di Indonesia pastinya memiliki rekam jejak perjuangannya sendiri. Begitu pun daerah Banten. Banten memiliki segudang jejak sejarah perjuangan yang patut diingat dan dipelajari. Tokoh-tokoh berikut menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan daerah Banten.
1. Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Banten ke-6 yang terkenal gigih dalam mengusir imperialisme di Banten. Lahir pada 1631, ia menggantikan posisi kakeknya, Sultan Abdul Mafakhir, sebagai sultan pada tahun 1651. Saat menjabat, ia menerapkan kebijakan anti-VOC yang pada saat itu VOC memonopoli berbagai bidang perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Selain itu, Sultan mendirikan keraton di dusun Tirtayasa yang saat ini dikenal sebagai daerah Banten Lama dengan tujuan meredam dominasi VOC.
Keberhasilannya saat itu mampu menyejahterakan rakyat Banten dengan dibangunnya sawah-sawah baru dan pengembangan irigasi, ekspansi wilayah perdagangan Banten hingga ke Sumatera dan Kalimantan, membangun armada laut dengan tujuan melindungi wilayah perdagangan di Banten, hingga memperkukuh eksistensi agama Islam di Banten.
Di akhir perjuangannya, Sultan ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Batavia pada tahun 1683. Pada tahun 1692, ia wafat dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman raja-raja Banten di Provinsi Banten.
2. Nyi Mas Melati
Nyi Mas Melati adalah tokoh pahlawan perempuan Banten yang lahir pada tahun 1900an. Ia merupakan keturunan dari Sultan Hassanudin Banten Ke-18, Raden Kabal. Nyi Mas Melati sangat menolak fenomena “tuan tanah” yang saat itu marak di daerah Tangerang. Dengan semangat juangnya, ia tak tinggal diam melihat fenomena seperti itu. Nyi Mas, Raden Kabal, beserta pasukannya, menyabotase akses-akses yang melanggengkan aktivitas “tuan tanah” di berbagai wilayah Tangerang.
Akhir perjuangannya, konon Nyi Mas Melati gugur dengan kondisi bagian tubuhnya terpisah. Belum jelas tepatnya ia dimakamkan di mana. Namun, menurut beberapa catatan, ia dimakamkan di Balaraja, sementara sumber lain menyebutkan bahwa makamnya berada di Pulau Panjang, Kepulauan Seribu.
3. Brigjen KH Syam’un
Brigjen KH Syam’un adalah pahlawan nasional yang lahir pada 15 April 1883 di Cilegon. Brigjen KH Syam’un sempat menjabat sebagai Bupati Serang pada tahun 1946 hingga 1949. Ia merupakan tokoh agama yang memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan. Brigjen KH Syam’un terkenal dengan perjuangannya pascakemerdekaan pada tahun 1948. Saat itu, Belanda Kembali menginvasi tanah, dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda. Pejabat-pejabat lokal ditangkap oleh Belanda, begitu pun KH Syam’un. Namun, ia berhasil lolos dari tangkapan Belanda dan secara diam-diam menyumbangkan mesin cetaknya kepada Indonesia untuk membuat uang khusus karena pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis keuangan.
Brigjen KH Syam’un wafat pada 2 Maret 1949 di Gunung Cacaban. Pada 8 November 2018, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh mantan Presiden Joko Widodo.
Segala perjuangan pahlawan Banten di masa lampau patut dikenang oleh seluruh masyarakat modern. Sudah selayaknya masyarakat modern mengimplementasikan perjuangannya untuk mempertahankan integritas bangsa Indonesia seperti pahlawan-pahlawan yang telah disebutkan. Dengan begitu, bangsa Indonesia tidak mudah dipecah belah oleh pihak eksternal yang sengaja ingin mengacak-acak kesatuan bangsa Indonesia.
Perjuangan tidak hanya dalam bentuk pertempuran, tetapi juga penggunaan sisi intelektual dianggap sebagai salah satu perjuangan. Meskipun saat ini sudah tidak ada lagi penjajahan, tetapi perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia dapat dilakukan dengan cara lain, seperti mempelajari sejarah bangsa Indonesia, mengamati situasi politik di Indonesia, mempelajari dan melestarikan budaya Indonesia, dan memasifkan orisinalitas budaya Indonesia kepada dunia.
Nama penulis: Tirta Sena Syach Kurniawan
Editor: Muthia Zahra