Sebagai ibu kota Provinsi Banten, Kota Serang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan pengangguran yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Serang mencapai lebih dari 700 ribu jiwa. Dari angka tersebut, penduduk miskin tercatat sekitar 7–8 persen, atau setara puluhan ribu warga yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
Sementara itu, BPS Banten juga mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah ini termasuk yang tertinggi di Indonesia. Pada Februari 2025, Banten sempat berada di posisi tiga besar provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi secara nasional. Di Kota Serang sendiri, jumlah penganggur diperkirakan mencapai sekitar 26 ribu orang, menunjukkan masih lemahnya penyerapan tenaga kerja.
Data tersebut juga sejalan dengan pemberitaan di berbagai media daerah yang menyebutkan bahwa meski ada tren penurunan pengangguran secara perlahan, laju perbaikannya belum signifikan. Banyak lulusan SMA hingga sarjana di Serang tidak langsung terserap ke dunia kerja karena keterampilan yang tidak sesuai kebutuhan industri.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa Serang terhadap peluang kerja saat lulus. Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dellas Dian Nugraha, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi di sebagian lingkungan masyarakat Serang sebenarnya cukup sejahtera, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor industri dan perdagangan. Namun, Dellas mengakui bahwa peluang kerja setelah lulus masih menjadi kekhawatiran banyak mahasiswa.
“Saya merasa khawatir sebagai mahasiswa untuk lulus nanti masih kurangnya peluang kerja di Serang. Banyak lowongan yang butuh pengalaman atau keterampilan khusus, sementara tidak semua mahasiswa punya itu. Selain itu, banyak juga yang harus bersaing dengan pendatang dari luar daerah,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange melalui WhatsApp (02/11/2025).
Dellas menilai penyebab pengangguran di Serang tidak hanya terbatas pada jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga pada minimnya keterampilan dan pengalaman praktis yang dimiliki sebagian pencari kerja. Ia menjelaskan bahwa banyak orang masih mengandalkan ijazah tanpa kemampuan tambahan yang relevan dengan kebutuhan industri. Untuk itu, Dellas berpendapat bahwa pelatihan dan kreativitas anak muda seperti Program Balai Latihan Kerja (BLK) dan akses ke pembelajaran keterampilan digital dinilai dapat membantu menciptakan peluang usaha baru.
Sebagai warga Serang, Dellas memiliki harapan besar terhadap peluang lapangan kerja di Kota Serang. Dellas berharap pemerintah lebih banyak membuka pelatihan kerja dan membantu modal usaha bagi anak muda. Dunia pendidikan juga sebaiknya lebih fokus membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis dan pengalaman magang. Dengan begitu, setelah lulus, mahasiswa bisa lebih siap kerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri.
Menurut pandangan akademisi, dosen Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Rah Adi Fahmi Ginanjar, menjelaskan bahwa kemiskinan di Serang perlu dilihat sebagai fenomena kemiskinan perkotaan (urban poverty). Ia menyampaikan bahwa struktur ekonomi Serang masih didominasi aktivitas pemerintahan dan jasa sederhana, sehingga belum tumbuh kuat seperti kawasan industri di Tangerang atau Cilegon.
“Kota Serang memiliki karakteristik yang unik, meskipun berstatus ibu kota provinsi, struktur ekonominya belum sepenuhnya bergeser ke sektor produktif modern. Akibatnya, kemiskinan di Serang bersifat urban poverty, yaitu kemiskinan di kota akibat keterbatasan kesempatan kerja formal dan tingginya biaya hidup,” jelasnya saat diwawancarai oleh LPM Orange melalui WhatsApp (04/11/2025).
Rah juga menilai bahwa tingginya angka pengangguran merupakan indikasi adanya kesenjangan keterampilan (skill mismatch) antara pencari kerja dan kebutuhan dunia industri. Banyak lulusan SMA hingga sarjana tidak terserap ke pekerjaan formal karena kompetensi tidak sesuai kebutuhan pasar.
Persoalan kemiskinan dan pengangguran di Kota Serang tidak hanya berkaitan dengan terbatasnya lapangan kerja, tetapi juga dengan kesenjangan keterampilan tenaga kerja, arah pembangunan ekonomi daerah, serta kesiapan lembaga pendidikan dalam menyiapkan lulusan yang kompetitif. Kondisi ini memperlihatkan karakteristik urban poverty, yang mana tekanan biaya hidup perkotaan tidak sebanding dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja lokal.
Menanggapi hal tersebut, Rah menyebutkan langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah daerah antara lain adalah mendorong UMKM dan ekonomi kreatif melalui akses permodalan, memperkuat kolaborasi antara pendidikan dan industri lewat pelatihan dan magang, memperbaiki basis data sosial untuk program yang tepat sasaran, serta mengembangkan kawasan ekonomi berbasis jasa dan perdagangan. Implementasi kebijakan tersebut berpotensi mengurangi ketimpangan ekonomi dan membuka peluang kerja lebih luas, terutama bagi generasi muda.
Dengan penguatan keterampilan, dukungan modal usaha, serta penciptaan ruang industri dan ekonomi kreatif baru, Kota Serang memiliki peluang besar untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran. Langkah ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Sebagai ibu kota provinsi, Serang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang inovatif dan mandiri.
Penulis: Nadira Zahra Alifa
Editor: Muthia Zahra
sumber:
Badan Pusat Statistik Kota Serang. (2025). Kota Serang dalam angka 2025. BPS Kota Serang. https://serangkota.bps.go.id/id/publication/2025/02/28/ec73671dde755afabd134c1c/kota-serang-dalam-angka-2025.html
Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. (2025, Juli 25). Profil kemiskinan Provinsi Banten Maret 2025. BPS Banten. https://banten.bps.go.id/id/news/2025/07/25/74/profil-kemiskinan-provinsi-banten-maret-2025.html
Antaranews Banten. (2025). Pengangguran di Banten periode Februari 2025 menurun. Antara News Banten. https://banten.antaranews.com/berita/333721/pengangguran-di-banten-periode-februari-2025-menurun
Banten Inside. (2025). Pengangguran di Kota Serang masih tinggi. Banten Inside. https://www.banteninside.co.id/banten/pengangguran-di-kota-serang-masih-tinggi/