Takut tapi Ketagihan Nonton Film Horor? Ternyata Ini Alasannya!

Sumber: inews.com

Usai menonton film horor, sebagian orang kerap merasakan merinding, sulit tidur, atau terbayang-bayang adegan yang mereka saksikan, terutama ketika menontonnya pada malam hari. Meski menimbulkan rasa takut, tak jarang orang tetap kembali menonton film horor, bahkan judul yang sama. Fenomena “takut tapi nagih” ini ternyata umum dialami banyak orang, dengan sejumlah alasan yang membuat mereka rela mengulang sensasi menegangkan tersebut.

Bagi beberapa orang, menonton film horor seperti uji nyali. Perasaan takut, tegang, dan merinding kerap dirasakan. Di situlah letak keseruan yang mereka suka. Rasa takut yang muncul ketika menonton horor dapat memicu adrenalin, membuat jantung berdebar, tetapi tetap disertai rasa aman karena tahu itu hanya film, bukan kenyataan. Perpaduan antara tegang dan aman ini, mirip dengan sensasi naik roller coaster karena menegangkan, tetapi membuat ketagihan.

Alasan lain mengapa seseorang menonton horor adalah untuk bernostalgia. Menurut penelitian Hoekstra dkk. (1999) Autobiographical Memories About the Experience of Seeing Frightening Movies in Childhood, pengalaman menonton horor semasa kecil ini sering kali menempel dalam ingatan. Ketika dewasa, kita kembali merasa penasaran dan ingin mengulang momen itu, tentunya dengan mental yang lebih siap. Rasa takut pun bercampur dengan rasa bangga karena berhasil “menaklukkan” film yang dulu bikin merinding dan ketakutan.

Tidak hanya itu, Zillmann dkk. (1986) dalam Effects of an Opposite-Gender Companion’s Affect to Horror on Distress, Delight, and Attraction juga menyebutkan bahwa, film horor sering jadi ajang kebersamaan. Menonton bersama teman, keluarga, atau gebetan bisa membuat pengalaman terasa lebih menyenangkan. Teriak bersama, tertawa karena kaget, atau saling melempar bantal justru menciptakan memori lucu. Keseruan itu bukan hanya datang dari filmnya, tetapi juga dari reaksi orang-orang di sekitar kita.

Selain itu, ada juga faktor “tantangan pribadi.” Sebagian orang sengaja menonton horor untuk membuktikan keberanian mereka. Meskipun sudah mengetahui alur dan bagian jumpscare-nya, sensasi menghadapinya kembali tetap memuaskan. Rasanya seperti berkata ke diri sendiri, “tuh kan, berani.” Sebuah pencapaian kecil yang membuat bangga.

Sumber: freepik.com

Kemudian, faktor penasaran juga ikut andil di dalamnya, seperti yang ditulis Haidt dkk. (1994) dalam penelitiannya Individual Differences in Sensitivity to Disgust menemukan bahwa emosi intens, termasuk rasa takut dan jijik akan lebih mudah terekam oleh memori. Jadi, meskipun kita sempat trauma dengan adegan tertentu, otak justru mendorong kita untuk mengulanginya, seolah ingin menuntaskan “urusan yang belum selesai.”

Jadi, kalau Orangers termasuk orang yang penakut tetapi suka nonton horor, santai saja. Di balik rasa takut itu, terdapat banyak hal seperti adrenalin, rasa bangga, nostalgia, sampai momen kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Terkadang, rasa takut bukan menjadi alasan untuk menjauh, tetapi justru membuat penasaran sambil siap-siap tutup mata di adegan yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Jadi, jangan ragu untuk mencoba nonton film horor baru, siapa tahu menjadi bumbu pelengkap yang membuat pengalaman nonton semakin berkesan.

Penulis: Danish Najwa Aliya

Editor: Muthia Zahra

Referensi:

Arlado, I. (2024, November 1). Takut tapi suka nonton film horor? Ini penjelasan psikolog kenapa ketakutan kadang membuat kita senang. Radar Mojokerto. https://share.google/SjBaDAeZc3DaZapDE  

Haidt, J., McCauley, C., & Rozin, P. (1994). Individual differences in sensitivity to disgust. Personality and Individual Differences, 16(5), 701–713. https://psycnet.apa.org/doi/10.1016/0191-8869(94)90212-7  

Hoekstra, S. J., Harris, R. J., & Helmick, A. L. (1999). Autobiographical memories about the experience of seeing frightening movies in childhood. Media Psychology, 1, 117–140. https://psycnet.apa.org/doi/10.1207/s1532785xmep0102_2 

Sari, R. Y. (2022, Februari 12). Kenapa kita suka nonton film horor padahal takut? Zenius Education. https://share.google/7OGCbx20NIxloH2Ie  

Zillmann, D., Weaver, J. B., Mundorf, N., & Aust, C. F. (1986). Effects of an opposite-gender companion’s affect to horror on distress, delight, and attraction. Journal of Personality and Social Psychology, 51(3), 586–594. https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/0022-3514.51.3.586