Revitalisasi Perpustakaan oleh Kelompok KKM 93 Untirta: Menghidupkan Ruang Baca yang Lama Terabaikan

Revitalisasi Perpustakaan oleh Kelompok KKM 93 Untirta: Menghidupkan Ruang Baca yang Lama Terabaikan
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Perpustakaan Kelurahan Kebonsari yang sempat tak aktif sejak 2017 kini kembali berfungsi sebagai ruang baca publik. Proses revitalisasi dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 93 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), yang mengubah wajah perpustakaan menjadi lebih layak dan menarik untuk dikunjungi, khususnya oleh anak-anak.

Ketua kelompok KKM 93 Untirta, Novian, menjelaskan bahwa sebelum melakukan revitalisasi, timnya terlebih dahulu melakukan observasi lapangan, wawancara dengan perangkat kelurahan, serta survei kepada warga. Dari hasil itu, ditemukan sejumlah persoalan mendasar mulai dari minimnya kunjungan masyarakat, tidak adanya promosi atau sosialisasi perpustakaan, hingga koleksi buku yang tidak diperbarui sejak bertahun-tahun lalu.

“Perpustakaan ini sebenarnya punya potensi besar untuk mendukung pengembangan literasi warga. Namun karena ruangannya terbengkalai dan tidak ada pengelola tetap, keberadaannya tidak diketahui oleh banyak orang, bahkan oleh anak-anak yang tinggal di sekitar kelurahan,” ujarnya (05/08/2025).

Program revitalisasi ini mencakup penataan ulang ruang, kebersihan fasilitas, penambahan koleksi buku oleh Perpusnas, hingga menyusun ulang koleksi bacaan. Tak hanya itu, mereka juga menginisiasi berbagai program literasi seperti membaca nyaring, sesi tanya jawab berhadiah, menggambar dan mewarnai, hingga diskusi buku ringan untuk anak-anak.

Pendekatan humanis dan menyenangkan ini ternyata mampu menarik perhatian warga. Beberapa pengunjung mengaku baru mengetahui keberadaan perpustakaan setelah ada kegiatan dari mahasiswa KKM. “Sebelum ada Kakak KKM, tidak tahu kalau di sini ada perpustakaan. Setelah dirapikan, jadi sering datang untuk baca buku. Saya bahkan juga sudah memiliki buku bacaan dan spot favorit,” ujar Abidzar Al-Hufaro (05/08/2025).

Hal serupa disampaikan oleh Muhammad Nur Adyatama yang tidak hanya menikmati kegiatan membaca komik dan buku cerita, tetapi juga antusias mengikuti aktivitas lain yang tersedia di perpustakaan. “Kalau bosan, bisa mewarnai atau menggambar juga. Seru. Harapannya sih pengelola berikutnya bisa terus bikin kegiatan-kegiatan kayak kakak-kakak KKM,” ungkapnya (05/08/2025). Sementara itu, pengunjung lain, Julian Ramadhan mengungkapkan bahwa perpustakaan kini menjadi tempat yang nyaman untuk membaca sekaligus bersantai. Ia kerap datang tidak hanya untuk membaca, tetapi juga menikmati camilan yang dibagikan saat kegiatan berlangsung.

Perubahan drastis juga dirasakan oleh Fahri Daversa. Ia menyebut perpustakaan dulunya tampak seperti gudang, kotor, dan tidak terawat. “Bahkan kalau dulu kadang ada binatang masuk. Tapi sekarang jadi bersih, adem dan nyaman untuk baca. Harapannya mungkin bisa diperluas ruangnya dan dicat ulang biar makin nyaman,” katanya.

Kepala Kelurahan Kebonsari, Asep Muzayin, mengakui bahwa sebelumnya perpustakaan tidak berjalan optimal karena sistem pengelolaannya tidak tersosialisasi dengan baik. Selain itu, rendahnya minat baca masyarakat menjadi faktor utama vakumnya operasional perpustakaan. Lebih lanjut, Ia menilai bahwa kehadiran mahasiswa KKM telah membawa gebrakan positif, terutama dalam membangkitkan minat baca siswa SD Kebonsari yang kini rutin mengunjungi perpustakaan. “Saya sempat pesimis. Awalnya berpikir, apakah anak-anak masih mau datang ke perpustakaan? Tapi ternyata sistem yang dibangun oleh mahasiswa ini berhasil. Mereka bisa merangkul siswa SD Kebonsari, dan itu luar biasa,” ujarnya  (02/08/2025).

Lebih lanjut, ia menyebut upaya para mahasiswa telah menjadi pondasi awal yang baik untuk pengembangan literasi ke depan.  “Contoh munculnya siswa datang ke sini adalah inovasi. Contoh siswa suka dengan buku itu adalah bagian dari inovasi. Kalau pondasi ini kita diamkan, pasti akan hancur. Tapi kalau kita rawat dan kembangkan, hasilnya bisa lebih baik lagi,” lanjutnya.

Sebagai tindak lanjut, Asep berencana untuk membangun sistem keberlanjutan agar perpustakaan tetap aktif meski program KKM telah selesai. Beberapa rencana yang disusun antara lain menunjuk pengelola tetap dari internal kelurahan, menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah sekitar, dan menjadwalkan kunjungan rutin siswa. “Saya akan buat surat kepada sekolah-sekolah bahwa di Kelurahan Kebonsari ada perpustakaan. Nanti dijadwalkan, misalnya SD ini datang hari apa, SD itu hari apa. Karena ruangannya terbatas, tidak mungkin seluruh siswa datang sekaligus,” tambahnya.

Di sisi lain, tantangan besar dihadapi oleh pengelola perpustakaan yang baru. Minimnya dokumentasi dan tidak adanya proses transfer informasi dari pengelola sebelumnya membuat proses awal revitalisasi berjalan tanpa data yang memadai. “Saya hanya meneruskan saja dan ditugaskan sebagai pengelola perpustakaan. Namun untuk hal-hal yang lebih rinci, saya kurang begitu paham. Jadi, saya hanya bisa memantau jika ada petugas atau warga yang datang,” ungkapnya (05/08/2025).

Melihat hal tersebut, Ketua KKM 93, Novian, menegaskan pentingnya keberlanjutan pengelolaan perpustakaan agar tidak kembali terbengkalai setelah program KKM berakhir. Novian berharap revitalisasi yang telah dilakukan dapat menjadi pondasi awal yang kuat bagi pengembangan literasi jangka panjang di Kelurahan Kebonsari. Ia juga mendorong pihak kelurahan untuk memberikan dukungan berkelanjutan melalui penunjukan pengelola tetap, pengalokasian anggaran, serta menjalin kerja sama dengan sekolah maupun komunitas literasi di sekitar. Disisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk turut menjaga fasilitas dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang bersama yang hidup, tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat aktivitas belajar dan berkumpul bagi warga.

“Kami percaya bahwa revitalisasi ini bukan hanya soal ruang dan buku, tetapi tentang membangun kembali kebiasaan belajar, budaya baca, dan rasa kebersamaan. Dengan dukungan kelurahan dan partisipasi aktif masyarakat, kami yakin perpustakaan ini dapat menjadi warisan positif jangka panjang bagi Kelurahan Kebonsari,” tutupnya.

Reporter: Maylaffaiza Intan dan Nawal Najiya

Penulis: Nawal Najiya