Stop Asal Cap! Pahami Dulu Sex, Gender dan Orientasi Seksual!

Saat dunia mulai mengakui bahwa identitas manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar “laki-laki” atau “perempuan”, penting bagi kita untuk memisahkan mitos dari fakta. Konsep jenis kelamin (sex), gender, dan orientasi seksual tidak bisa lagi disamakan begitu saja. Ketiganya memiliki dasar, makna, dan konteks yang berbeda.

Banyak yang masih menganggap bahwa sex (jenis kelamin), gender, dan orientasi seksual adalah hal yang sama. Padahal, ketiganya adalah konsep yang berbeda dan memiliki dasar serta konteks masing-masing. Persepsi yang keliru ini seringkali menjadi sumber kebingungan, stigma, bahkan diskriminasi terhadap individu dengan identitas yang tidak sesuai dengan norma mayoritas.

Sumber: pinterest/@freepik

Seperti yang dikatakan oleh Siti Dinda Rahayu, seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan yang mengaku pernah mendengar istilah tersebut, tetapi tidak begitu tahu secara mendalam. Hal serupa juga disampaikan oleh AM, mahasiswa Administrasi Publik yang sering mendengar perihal gender, sex, dan orientasi seksual, tetapi tidak terlalu bisa membedakannya, “sering banget denger dari media sosial atau pas belajar di kelas, tapi emang agak bingung sih bedain antara gender, orientasi seksual dan sex,” ujarnya saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (29/05/2025).

Pernyataan-pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bahkan di lingkungan akademik, pemahaman soal identitas gender dan seksualitas masih minim. Ketidaktahuan ini bukan semata-mata soal istilah, tetapi bisa berdampak pada cara masyarakat memperlakukan orang lain, terutama mereka yang identitasnya dianggap “tidak biasa.” Dalam konteks yang lebih luas, miskonsepsi ini menjadi akar dari berbagai bentuk penghakiman sosial dan marginalisasi.

Sumber: pinterest/@binderme

Istilah sex atau jenis kelamin mengacu pada karakteristik biologis seseorang sejak lahir, termasuk kromosom, hormon, dan organ reproduksi. Biasanya, sex dikategorikan sebagai laki-laki dan perempuan. Namun, ternyata pembagian ini tidak sepenuhnya biner. Ada orang yang memiliki vagina, tetapi secara hormonal dominan hormon laki-laki, atau memiliki kombinasi karakteristik biologis yang tidak sepenuhnya cocok dengan definisi tradisional laki-laki atau perempuan. Kondisi ini dikenal sebagai interseks, yaitu ketika seseorang lahir dengan variasi genetik, hormonal, atau anatomi yang tidak sesuai dengan standar laki-laki atau perempuan. Artinya, sex juga berada dalam suatu spektrum, bukan dua kategori mutlak.

Berbeda dari sex, gender adalah identitas diri yang terbentuk secara psikologis dan sosial. Gender mencerminkan bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri dan mengekspresikan perannya dalam masyarakat, yang bisa sesuai atau tidak sesuai dengan jenis kelamin biologisnya. Gender juga tidak terbatas pada dua pilihan. Misalnya, non-biner adalah istilah untuk seseorang yang tidak merasa cocok hanya sebagai laki-laki atau perempuan. Genderqueer digunakan oleh mereka yang identitas gendernya tidak mengikuti norma konvensional atau bersifat campuran. Sementara agender merujuk pada individu yang tidak memiliki identitas gender sama sekali, mereka tidak merasa sebagai laki-laki, perempuan, maupun di antaranya.

Selanjutnya, orientasi seksual berkaitan dengan kepada siapa seseorang merasa tertarik, baik secara emosional, romantis, maupun seksual. Ketertarikan ini bisa ditujukan kepada lawan jenis (heteroseksual), sesama jenis (homoseksual), keduanya (biseksual), semua gender (panseksual), atau bahkan tidak merasakan ketertarikan seksual sama sekali (aseksual).

Dengan memahami bahwa sex berhubungan dengan tubuh dan faktor biologis, gender berkaitan dengan identitas diri yang dirasakan dan diekspresikan, dan orientasi seksual merujuk pada ketertarikan terhadap orang lain, kita bisa melihat bahwa ketiganya memiliki ruang dan makna yang berbeda.

Sumber: pinterest/@freepik

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa keberagaman gender dan orientasi seksual merupakan bagian alami dari keberadaan manusia. Oleh karena itu, pendekatan yang inklusif dalam pendidikan, layanan publik, dan pergaulan sosial sangat penting untuk mendukung kesejahteraan semua kelompok identitas, terutama yang selama ini terpinggirkan.

Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi yang benar. Ketidaktahuan ini bisa memicu sikap diskriminatif, pengucilan sosial, hingga kekerasan verbal atau fisik. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membangun kesadaran bersama bahwa keragaman identitas bukanlah ancaman terhadap nilai, melainkan sebuah kenyataan yang harus dihormati dan dipahami.

Sumber: pinterest/@mindhelp

Memasuki dunia yang semakin kompleks dan terbuka, masyarakat tidak cukup hanya berbekal opini. Kita perlu literasi identitas yang berbasis ilmu pengetahuan, empati, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia.

Penulis: Bunga Astriani Asmara

Editor: Muthia Zahra

Referensi

Moleiro, C., & Pinto, N. (2015). Sexual orientation and gender identity: Review of concepts, controversies and their relation to psychopathology classification systems. Frontiers in Psychology, 6, 1511. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2015.01511

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2022). Measuring sex, gender identity, and sexual orientation. The National Academies Press. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK556036/

American Psychological Association. (n.d.). Psychology of sexual orientation and gender diversity. https://www.apa.org/pubs/journals/sgdB

World Health Organization. (n.d.). Gender and genetics. https://www.who.int/genomics/gender/en/

Griffin, L., Clyde, K., Byng, R., & Bewley, S. (2020). Sex, gender and gender identity: A re-evaluation of the evidence. BJPsych Bulletin, 44(5), 228–233. https://doi.org/10.1192/bjb.2020.73