Di balik keindahan alam Kabupaten Pandeglang, Banten, terdapat sebuah desa dengan sejarah yang jarang diketahui, menarik untuk diungkap. Desa Sanghyang Dengdek, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Pulosari, menyimpan jejak kebudayaan kuno yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Salah satu penemuan paling menakjubkan di desa ini adalah patung menhir—sebuah batu besar yang dipahat dengan teliti dan diperkirakan memiliki nilai spiritual yang dalam bagi masyarakat masa lalu.
Desa Sanghyang Dengdek memiliki nama yang berhubungan dengan kata “Sanghyang”. Kata “Sang” merupakan kata sandang yang digunakan untuk menghormati leluruh, sedangkan “Hyang” ialah kata dalam bahasa sunda yang berarti “sosok yang disembah/didewakan” atau “Tuhan”. Jadi desa Sanghyang Dengdek berarti tempat suci atau tempat yang dihormati. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah dekat Gunung Pulosari telah memiliki makna spiritual atau religius sejak zaman dahulu. Masyarakat yang hidup di desa ini pada masa prasejarah diyakini telah memanfaatkan batu besar atau menhir sebagai bagian dari upacara keagamaan dan pemujaan terhadap leluhur atau kekuatan alam.
Menhir tersebut berupa batu besar yang dipahat menyerupai bentuk manusia atau figur tertentu, yang menggambarkan bahwa masyarakat waktu itu memiliki tradisi pemujaan yang berkaitan dengan dunia roh atau alam gaib. Bentuk menhir ini menunjukkan teknik batuan yang cukup maju pada masanya.
Menhir dalam tradisi megalitikum sangat berkaitan dengan alam, dimana tanah bukan hanya dilihat sebagai tempat tinggal atau tempat bercocok tanam, tetapi dianggap sebagai unsur vital dalam kehidupan manusia. Kepercayaan lokal menyatakan bahwa tanah memiliki kekuatan spiritual yang harus dihormati dan dijaga. Oleh karena itu, tanah harus diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan tata cara dan aturan yang berlaku agar “penjaga” tanah, yang dianggap sebagai roh penjaga kesuburan, senantiasa memberikan hasil yang baik.
Upacara-upacara megalitik yang dilakukan oleh masyarakat pada masa itu berfungsi untuk meminta berkah dari roh-roh yang menguasai alam, terutama roh nenek moyang yang telah meninggal. Para pemimpin masyarakat, yang dihormati dan dianggap memiliki kedekatan dengan roh leluhur, sangat dihormati dalam upacara-upacara ini.
Gagasan tentang hal supernatural yang masih dipegang dalam kepercayaan lokal maupun kepercayaan pada adanya personified being atau perwujudan benda mati yang dapat berupa Tuhan, dewa, maupun orang suci dalam masyarakat Banten masih kental. Sehingga sampai saat ini, tidak jarang masyarakat yang menjadikan situs Sangyang Dengdek sebagai tempat berziarah atau berkunjung untuk meminta barokah dan karomah dari situs yang disakralkan tersebut. Terlepas dari sisi spiritualnya, Menhir ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda atau penghormatan kepada roh leluhur, tetapi juga sebagai simbol dari kepercayaan yang berkembang di masyarakat prasejarah di wilayah tersebut.
Penulis: Angeli Ramadhani
Editor: Muthia Zahra