Ragam Penyebab Déjà vu yang Pancarona, Hasil Renkairnasi atau Distorsi pada Otak?

Sumber: Pinterest/@yupeejelly

Hal-hal unik dan menarik selalu menemani kehidupan manusia, salah satunya fenomena dejavu. Jika pernah merasa sangat familiar terhadap suatu kondisi atau kejadian, padahal ini adalah pengalaman yang baru dialami, sebut saja fenomena ini sebagai déjà vu. Walaupun proses déjà vu biasanya berakhir dengan cepat, tetapi kesan yang ditimbulkan sangat membekas dan menciptakan banyak pertanyaan di benak manusia. 

Mitosnya, déjà vu terjadi karena manusia mengalami reinkarnasi atau lahir kembali, sehingga merasa pernah mengalami kejadian seperti kehidupan sebelumnya yang sama persis dengan kehidupan saat ini. Namun, hal ini bertolak belakang dengan studi psikologis dan kesehatan. Déjà vu dapat dijelaskan dengan dua sudut pandang, yakni déjà vu terjadi karena setiap orang punya pengalaman yang berbeda, dan terjadi akibat otak manusia terkadang salah membaca sinyal keakraban yang muncul. 

Déjà vu akan muncul ketika otak manusia merasa sudah pernah merasakan kondisi atau pengalaman yang mirip dengan yang terjadi sekarang, tetapi tidak sadar hal tersebut datang dari mana. Dalam Frontiers, dikatakan déjà vu dialami manusia mulai dari umur 6-10 tahun, tetapi akan terjadi lebih sering pada usia 15-25 tahun. Kemudian, tingkat frekuensi tersebut akan menurun seiring bertambahnya usia. 

Secara teori neurologis, déjà vu timbul karena masalah kecil yang terjadi di bagian otak, yaitu korteks temporal. Bagian ini memang memiliki tugas untuk mengingat kondisi atau situasi dengan jelas. Kemudian, saat otak mengalami gangguan, maka korteks temporal akan membuat memori palsu yang menyebabkan otak manusia menganggap sebuah situasi atau kondisi yang sedang dialami terasa sudah terjadi sebelumnya. Sebab itu, terbentuklah perasaan familiar atau déjà vu terhadap suatu hal tertentu. 

Dalam karya “The Déjà Vu Experience” yang ditulis oleh seorang Psikolog, Alan Brown menguatkan teori neurologis, yaitu pasien yang mengalami epilepsi di korteks temporal sering mengalami déjà vu tepat sebelum mereka mengalami kejang. Hal ini disebabkan oleh pelepasan neuronal atau listrik di beberapa bagian otak tertentu yang diyakini sebagai penyebab sumber terjadinya déjà vu. 

Selain itu, mengutip dari kompas, rupanya Déjà vu juga mempunyai keunikan lain yang bisa dilihat dari jenis-jenisnya, yaitu sebagai berikut:

  1. Jamais vu

Berbeda dengan definisi Déjà vu pada umumnya, jamais vu terjadi apabila seseorang merasa asing terhadap situasi yang sedang terjadi, padahal ia sudah mengalaminya berkali-kali. Contohnya, ketika seseorang bersekolah selama setahun lamanya, ia masih merasa asing dengan situasi dan kondisi kantin sekolah, seakan-akan dirinya baru pertama kali berkunjung ke sana.

  1. Près vu

Didefinisikan sebagai kondisi yang mana seseorang sulit mengingat kata atau nama, meskipun ia mengerti apa yang dimaksud. Presque vu berarti “hampir melihat,” yang biasanya dikenal juga dengan fenomena tip-of-the-tongue. 

  1. Déjà rêvé

Terjadi ketika seseorang mengalami mimpi dengan sangat detail, sehingga ingatan dalam mimpi tersebut membekas ketika ia bangun. Déjà rêvé dikatakan sebagai sensasi mengalami situasi atau kondisi yang baru, tetapi hal tersebut terasa seperti potongan ingatan dari mimpi yang sudah dilalui. 

  1. Déjà vécu

Artinya “Sudah pernah mengalami,” jika seseorang sedang berada di suatu tempat dan ia merasa sudah pernah ke tempat tersebut dengan didukung oleh keyakinan emosional, maka itu adalah déjà vécu. Studi dari Cognitive Neuropsychiatry mengatakan, fenomena ini terjadi ketika otak manusia sedang mengaktifkan ingatan lama yang muncul akibat rangsangan dari lingkungan sekitar.

Sampai saat ini, déjà vu masih menjadi hal menarik yang unik. Meskipun sudah banyak peneliti yang mempublikasikan dan memaparkan penyebab dari déjà vu, perbedaan  versi dari tiap hasil penelitian akan terus menjadi sesuatu yang menarik untuk terus diulas. Selain itu, jenis-jenis dari déjà vu juga memperkaya pembahasan, serta membuka ruang untuk eksplorasi dalam penelitian selanjutnya.

Penulis: Nadya Bella Arthamevira

Editor: Hanna Tiosenia

Sumber: 

●O’Connor, A. R., & Moulin, C. J. A. (2013, November 27). Déjà vu experiences in healthy subjects are unrelated to laboratory tests of recollection and familiarity for word stimuli. Frontiers in Psychology, 4, 881.

(https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3842028/)

●Frontiers “What is Déjà vu?”

(https://kids.frontiersin.org/articles/10.3389/frym.2015.00001

●”Penjelasan ilmiah Déjà vu.” Rumah Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Medan Area.

(https://psikologi.uma.ac.id/penjelasan-ilmiah-deja-vu/)

● Kompas

“Peneliti Menemukan 4 Bentuk Baru “Deja Vu”, Apa Saja?”

(https://www.kompas.com/tren/read/2024/02/24/123000265/peneliti-menemukan-4-bentuk-baru-deja-vu-apa-saja-)

●Halodoc

“Ini 3 Penyebab Seseorang Mengalami Dejavu dari Sisi Psikologi”

(https://www.halodoc.com/artikel/ini-3-penyebab-seseorang-mengalami-dejavu-dari-sisi-psikologi?srsltid=AfmBOoq7dzTS7MpakQdjVmMflI1ydqqbypXiB9xiIXFrh2HWIJVV3JB6)