Kerja sama Pecah Kongsi Kolektif dan Kovikita Untirta melahirkan agenda bertajuk Kongsi Sinema yang telah berlangsung meriah di Teman Sore Cafe & Eatery, Serang, Rabu (20/11/2024). Kongsi Sinema adalah acara menonton film bersama yang dilanjutkan dengan diskusi film. Dalam agenda perdana ini, film yang dipilih adalah “Wisisi Nit Meke”. Acara ini turut menghadirkan Ronny Yudhi Septa sebagai dosen Ilmu Komunikasi Untirta, Rizal Mahfud dari Boetan Tjibalioeng, Akbar Samudra dari Pecah Kongsi Kolektif, serta dimeriahkan oleh Bokir’s. Terbuka untuk umum, Kongsi Sinema dihadiri partisipan dari berbagai kalangan.
Ketua Kovikita Untirta, Ananda Hafid Harun, menceritakan terbentuknya Kongsi Sinema bermula saat pihaknya diajak kerja sama oleh Pecah Kongsi Kolektif yang sedang diminta membuat screening oleh label musik Yes No Wave.
“Awal mulanya tercetus Kongsi Sinema saat Pecah Kongsi Kolektif diamanahkan membuat screening oleh label musik bernama Yes No Wave. Label tersebut menggarap dokumenter tentang Asep Nayak pada film dokumenter Wisisi Nit Meke,” katanya saat diwawancarai via WhatsApp, Jumat (22/11/2024).
Nanda, begitu sapaannya, mengatakan film tersebut mengisahkan beberapa orang yang mampu membuat perubahan baru dalam dunia musik, contohnya sosok Asep Nayak.
Meskipun sedikit terkendala penyesuaian waktu karena banyaknya pihak yang terlibat, ia melihat antusiasme tinggi dari partisipan yang datang dan berharap acara ini rutin diadakan.
“Saya liat sih sangat antusiasme sekali ya, mungkin bisa dibilang lebih dari seratus partisipan yang hadir dalam Kongsi Sinema ini. Saya berharap acara ini bisa diselenggarakan secara berkala dan rutin dengan tema dan pembahasan yang lebih luas lagi dan lebih variatif,” tuturnya.
Nanda juga menambahkan harapannya agar kegiatan ini berkelanjutan dan mampu memantik rasa kritis terhadap film.
“Harapan saya kedepannya bisa memberikan ruang untuk brainstorming dari film-film yang udah pernah kita bedah gitu, jadi tiap film khususnya dokumenter punya isu dan tujuan masing-masing gitu untuk saya dan kawan-kawan ingin kegiatan ini terus berlanjut. Ya, sebenernya untuk menumbuhkan rasa kritis terhadap film itu sendiri juga,” tutup mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut.
Vanisa, salah satu peserta yang hadir dalam Kongsi Sinema mengungkapkan acara ini cocok bagi yang menyukai maupun tidak menyukai film.
“Mungkin kalau misalkan buat orang yang suka film yang menarik, jadi kayak nambah wawasan tentang film-film. Kalau misalkan yang nggak terlalu suka film juga, jadi bisa tahu tentang film populer,” katanya (20/11/2024).
Ia melanjutkan, pemilihan film Wisisi Nit Meke membuat penonton memahami tentang perkembangan musik di Papua.
“Kan ini (Wisisi Nit Meke) tentang Papua gitu, jadi tahu tentang kemajuan realistis musik di Papua gimana,” tambahnya.
Nare, mahasiswa Untirta yang berasal dari Papua menyambut hangat acara ini. Ia merasa senang sekaligus bangga saat diundang secara langsung oleh pihak panitia untuk menghadiri Kongsi Sinema.
Atas dipilihnya film Wisisi Nit Meke sebagai objek diskusi, Nare mengapresiasi panitia dan berharap film tersebut dapat membuka mata masyarakat tentang Papua.
“Saya mengapresiasi kepada panitia yang telah bikin acara ini. Masing-masing daerah punya tradisi, (kita) mengenal lebih dekat budaya lokal. Papua itu tidak seperti yang publik kira banyak demo dan lain-lain, sebenarnya tidak,” ungkapnya (20/11/2024).
Di penghujung wawancara, ia menegaskan bahwa Papua memiliki budaya lokal yang bisa ditunjukkan.
“Kita punya isu dilain sisi, (tak hanya) politik dan lain-lain. Sa sebagai orang papua rasa terima kasih kepada semuanya, kepada panitia, dan kawan-kawan yang memperlihatkan budaya papua,” ucap Nare dengan gaya bicara khasnya.
Penulis: Content Writer Hard News