Tulang Punggung yang Retak, Resonansi Fatherless Merangkul Kehidupan Anak

Sumber: Pinterest/NPR Pins

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak, salah satunya adalah kehadiran peran dari kedua orang tua. Tak hanya Ibu, kehadiran dan peran dari seorang Ayah sangat dibutuhkan secara signifikan, baik peran secara fisik maupun emosional. Namun, sampai hari ini Ayah masih dianggap hanya sebagai pencari nafkah untuk anaknya, dan kewajiban dalam merawat dan memantau perkembangan anak sepenuhnya adalah tugas Ibu. Hal tersebut menyebabkan banyak anak-anak yang kehilangan peran, momen, rasa nyaman, dan dukungan secara moral dari seorang Ayah. Fenomena ini kerap disebut “Fatherless”.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yakni Retno Litsyarti menyatakan Indonesia berada di posisi ketiga dengan kategori Fatherless Country. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2024 mempublikasikan Indonesia sempat mengalami kenaikan dalam kasus perceraian, yaitu pada 2022 mencapai 516.344 kasus perceraian, di mana angka ini naik 15,31% dibandingkan 2021 dan kemudian mengalami penurunan di 2024 dengan total 436.654 kasus. Kendati demikian, angka tersebut masih tergolong besar dan menjadi salah satu faktor penyebab Fatherless, di samping faktor lain seperti kematian dan pola pengasuhan patrilineal.

Kehadiran seorang Ayah ternyata berdampak besar bagi perkembangan psikologis dan emosional anak. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa dibersamai peran seorang Ayah atau dengan kata lain mengalami fenomena Fatherless dalam perkembangannya akan menghasilkan dampak emosi negatif yang dirasakan anak tersebut sampai Ia dewasa. Hal ini dijelaskan dalam artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Nurafifa Rachmanulia dan Kartika Sari Dewi pada 2023. 

Pernyataan tersebut sejalan dengan ungkapan salah satu Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2022, Ia mengaku belum bisa sepenuhnya menghadapi situasi kehilangan peran seorang Ayah. Rasa sedih dan hampa seringkali hinggap di hatinya, segenap usaha ia coba untuk melupakan rasa kesedihan tersebut melalui beberapa pelarian, seperti mempunyai pasangan, mengidolakan sosok selebriti, dan mengisi waktu dengan bermain bersama teman.

Trauma yang mendalam juga menimpa narasumber hingga menciptakan persepsi buruk terhadap laki-laki. Hal tersebut diakibatkan oleh peran Ayah yang tidak terlaksana dengan baik. 

“Aku setakut itu buat keluar rumah karena bakal ketemu laki-laki, takut buat ngobrol sama laki-laki, bahkan takut ada keberadaan laki-laki. Soalnya selalu ingat perlakuan jahat Ayah ke keluarga yang bikin ku benci banget sama laki-laki,” ujarnya, Kamis (7/11/2024).

Trauma dan ketakutan tersebut menunjukkan pentingnya ketepatan implementasi peran Ayah dalam keluarga untuk menjaga stabilitas emosional setiap anggota keluarga, terutama pada anak. Ketika ditanya mengenai harapan bagi sosok Ayah di luar sana yang menaungi anak-anak mereka, narasumber menyampaikan, seorang Ayah seharusnya hadir di setiap keadaan yang dialami anak, baik dalam keadaan senang maupun sedih. Ia juga berharap, sosok Ayah tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga mampu memberikan dukungan emosional. 

Ayah merupakan pilar pelindung yang tak ada gantinya, hadir dan perannya selalu dibutuhkan bagi setiap anak di dunia. Fenomena Fatherless menimbulkan dampak yang signifikan dalam perkembangan anak, sehingga penting bagi seorang Ayah bisa memahami dan mulai menaruh peduli terhadap peran dan kehadirannya di kehidupan anak. Apresiasi diberikan kepada semua Ayah yang berusaha untuk melaksanakan peran nya dengan baik untuk anak-anak mereka. 

12 November, Selamat Hari Ayah!

Penulis: Nadya Bella Arthamevira

Editor: Hanna Tiosenia

Referensi:

https://www.kompas.com/tag/fatherless-adalah

https://www.kompas.com/edu/read/2023/05/25/090000371/indonesia-urutan-ke-3-fatherless-country-psikolog-ugm-sebut-5-dampaknya

Rachmanulia, N., & Dewi, K. S. (2023). Dinamika psikologis pada anak perempuan dengan fatherless di usia dewasa awal: Studi fenomenologis. Kesehatan Mental Individu, Keluarga, dan Komunitas, 4.