Sumber: Kompas.com
Pada 30 September 1965, Indonesia menghadapi tragedi kelam saat Partai Komunis Indonesia (PKI) menculik dan membunuh enam jenderal serta satu perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD). Jasad mereka ditemukan di sumur Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa ini dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S/PKI, yang dipimpin oleh D.N. Aidit dan Letkol Untung. Penyebaran berita tentang penculikan ini menimbulkan ketakutan dan kemarahan di kalangan masyarakat terhadap PKI. Sebagai respons, pemerintah meluncurkan berbagai operasi militer, seperti Operasi Trisula dan Operasi Merapi, untuk menumpas keberadaan PKI di seluruh Indonesia.
Operasi Trisula
Sumber: detik.com
Operasi Trisula berlangsung di Blitar Selatan, Jawa Timur, dari 1 Juni hingga 7 September 1968. Dipimpin oleh Mayjen M. Yasin dan Kolonel Witarmin, operasi ini dilaksanakan oleh Kodam VIII/Brawijaya. Targetnya adalah anggota PKI yang bersembunyi di wilayah tersebut, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Rewang, Oloan Hutapea, Ruslan Widjajasastra, dan Munir. Operasi ini dipicu oleh kabar tentang aksi perampokan, penculikan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh anggota PKI di Blitar. TNI melakukan pencarian intensif hingga ke pegunungan untuk menumpas sisa-sisa PKI. Peristiwa ini kemudian didokumentasikan dalam film, “Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan: Operasi Trisula” yang dirilis pada tahun 1987.
Operasi Merapi
Sumber: inews.id
Suasana mencekam nan genting tidak hanya ada di Jakarta, namun sampai ke daerah-daerah seperti Jawa Tengah. Oleh karena itu, penumpasan PKI juga dilakukan di Jawa Tengah melalui Operasi Merapi. Operasi Merapi dibentuk pada 1 Oktober 1965 dan pasukan tersebut kembali ke Jakarta pada tanggal 30 Oktober 1965. Saking gentingnya situasi pada saat itu, di Jawa Tengah menerapkan pemberlakuan jam malam. Operasi penumpasan PKI ini dipimpin langsung oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo. Operasi ini berhasil menumpas diantaranya ada perwira pro PKI yaitu Kolonel Sahirman, Maryono dan Kapten Sukarno.
Penahanan Massal
Sumber: Kompas.com
Pasca operasi penumpasan sisa-sisa PKI, tokoh-tokoh besar PKI ditangkap dan diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Namun pada proses penangkapan dan penumpasan tersebut, terdapat banyak kasus “salah tangkap” oleh para aparat. Contohnya Tasmi, warga Blitar yang sedang bekerja di ladang namun ditangkap dan dimasukan ke dalam truk oleh aparat karena dirinya dianggap sebagai Yasmi, salah satu Gerwani PKI yang ada di Blitar. Selain itu masih banyak orang-orang biasa seperti buruh, petani, guru, mahasiswa, jurnalis dan lain sebagainya yang belum tentu terlibat dalam G30S. Kasus kesalahan tangkap ini menjadi salah satu bukti kurangnya ketelitian aparat dalam menangani kasus ini..
Penulis: Khalishah Zahra Khairina
Editor: Nawal Najiya Rasya