Halo orangers!
Marhaban Ya Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini sudah datang, mari kita sambut dengan hal-hal kebaikan. Pasti orangers sudah tidak asing dengan kata “Bukber” atau dapat disebut juga dengan buka bersama/buka puasa bersama. Fenomena bukber ini terjadi hanya pada bulan Ramadhan dan tentu saja berulang setiap tahunnya. Bukber, sholat tarawih, ngabuburit (kegiatan sambil menunggu buka puasa) menjadikan bulan Ramadhan berbeda dari bulan lainnya.
Ilustrasi buka bersama. Dok: ©Pinterest
Bukber ini dapat menjadi wadah untuk saling bersilaturahmi, mempererat tali persaudaraan. Mempertemukan orang-orang yang tadinya saling berjauhan dapat bersatu atau berdekatan kembali disatu tempat dan waktu yang sama. Bagi mahasiswa sendiri bukber ini dapat menjadi kesempatan bagi mereka untuk bercengkrama dengan keluarga. Bukber juga dilakukan oleh para pejabat dan artis tanah air. Bukber layaknya sebuah tradisi dalam negeri ini. Fenomena bukber tentu menarik perhatian, mulai dari tujuan bukber yang bergeser dari wadah silaturahmi menjadi ajang pamer atau mencari validasi dan lain sebagainya, berbagai macam pandangan diberikan mengenai fenomena ini.
Ajeng Annastasya Bukhori mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi 2022 mengatakan “Menurut saya, orang yang datang ke acara bukber adalah orang-orang yang ingin bertemu dengan saudara dan teman yang sudah lama tidak ditemui, jadi momen ini jadi ajang untuk berkumpul dan bersilaturahmi,” tutur Ajeng (25/03/2024).
Ajeng menjadikan fenomena bukber ini menjadi tempat untuk bersilaturahmi dengan orang-orang terdekat. Ia juga lebih memilih berbuka puasa bersama-sama dengan orang lain karena dapat merasakan sensasi kebersamaan dari berbincang-bincang dengan keluarga atau teman. Ia mendapatkan perasaan senang setelah hadir diacara bukber. Ajeng berpendapat bahwa orang yang menjadikan bukber tempat ajang pamer atau mencari validasi sangatlah mengganggu, ia sangat menyayangkan hal tersebut karena seharusnya bukber menjadi tempat bersilaturahmi.
“Hal tersebut sangat meresahkan ya, orang yang ikut bukber itu tujuannya untuk bersilahturahmi dengan orang lain yang akan ditemuinya, kalau ada oknum yang datang hanya untuk pamer atau mencari validasi akan mengganggu momen kumpul tersebut. Kita kumpul untuk bukber tanpa memandang latar belakang atau apapun itu, selama tujuannya baik ya ikut saja,” papar Ajeng (25/03/2024).
Sejalan dengan pemikiran Ajeng, Rahma Dania Nurraulia mahasiswi ilmu pemerintahan 2023 mengatakan bukber ini dapat menjadi ajang untuk bersilaturahmi. Dania pribadi lebih memilih berbuka puasa seorang sendiri karena kurang suka bertemu dengan banyak orang. Ia merasa senang dapat hadir pada acara bukber disisi lain ia juga merasa lelah karena bertemu banyak orang.
Dania beranggapan bahwa bukber ini mengalami pergeseran makna yang tadinya tempat bersilaturahmi kini menjadi ajang pamer outfit.
“Pada awalanya saya berpikir bukber untuk tempat kita bersilaturahmi. Namun, saya melihat di tahun-tahun sekarang bukber menjadi suatu ajang pamer “outfit” dan mencari validasi sehingga hal ini memunculkan pemikiran yang buruk tentang bukber,” ujar Dania (25/03/2024).
Pandangan bahwa eksistensi dari bukber mulai bergeser kearah negatif memang tidak dapat dihindari. Semulanya bukber memang menjadi ajang melepas rindu dengan keluarga dan sahabat tercinta kini tidak jarang dalam kegiatan bukber terdapat hal-hal yang kurang baik terjadi seperti pamer pencapaian atau busana dan melalaikan solat karena terlalu asik berbincang-bincang. Kembali lagi bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang suci dan penuh berkah. Bulan yang penuh rahmat ini harus diisi dengan hal-hal positif yang dapat mendatangkan pahala. Tidak ada yang salah dari fenomena bukber itu sendiri. Selagi kita menjalankannya dengan hati yang suci dan tujuan yang mulia. Berikan kesan yang baik saat hadir di acara bukber tersebut, dengan menjaga tutur kata dan tidak meninggalkan kewajiban sebagai orang islam yang taat, yaitu sholat.
Penulis: Alisha
Editor: Ira