Riuh Ormawa FISIP dalam pelaksanaan musyawarah istimewa pemberhentian ketua Hima IP oleh DPM FISIP UNTIRTA pada Kamis (21/09/2023) menimbulkan beberapa polemik dari pihak Hima IP. Mengenai hal tersebut fakultas yang diwakili Pak Hasuri sebagai wakil dekan 3 FISIP memberikan pernyataan bahwa Ia mengambil alih penandatanganan kegiatan yang diselenggarakan.
“Memang sebelum ini muncul dipermukaan, karena Prodi IP itu tidak mau menandatangani kegiatan yang mungkin karena ada pelanggaran, kemudian Saya ambil alih, karena memang IP tetap harus berjalan.“
Dengan adanya peraturan yang memuat kesepakatan antar mahasiswa maka aturan organisasi yang ada dilaksanakan dengan benar dan sesuai ketentuan yang ada untuk dijadikan pembelajaran kedepannya.
“Terkait dengan ini, di organisasi kan ada aturannya, dan itu berasal dari kesepakatan peraturan yang dibuat oleh mahasiswa juga. Oleh sebab itu aturan-aturan di organisasi itu harus ditaati, dilaksanakan. Tentu mungkin ada ketidakpuasan, tetapi itulah aturan organisasi. Oleh sebab itu, Saya berharap dengan situasi yang seperti ini, dibuat pembelajaran, yang penting jangan gaduh, dan tidak ada dampak di akademik.” jelas Pak Hasuri.
Pak Hasuri menjelaskan bahwa ia hanya menerima laporan dari DPM selaku penyelenggara Musmais, pihak fakultas sendiri tidak bisa mengintervensi permasalahan tersebut dan menyerahkan masalah ini ke DPM, karena hal itu merupakan kewenangan DPM, dan pihak fakultas hanya menjembatani hasil dari musyawarah istimewa tersebut. Pihak DPM pun secara resmi belum menghadap ke pihak fakultas, mungkin karena situasi masalah ini masih belum stabil dan pihak fakultas juga sebenarnya tidak boleh ikut terlibat.
Diakhir, Pak Hasuri selaku Wakil Dekan 3 Kemahasiswaan FISIP berharap semua pihak untuk menaati dan ikhlas terhadap aturan yang ada,
“Harapannya cuma satu yuk kita taati, kita legowo, karena aturannya demikian. Sesuai aturan yang ada, indeks prestasi harus dimiliki oleh siapapun ketua yang duduk di ormawa. Jadi jika dalam perjalanannya ternyata ada yang tidak sesuai maka harus ditindak sesuai dengan peraturan yang ada.” jelas Pak Hasuri.
Mengenai pro kontra yang ada terkait masalah tersebut di media sosial Pak Hasuri berpesan agar mahasiswa belajar dewasa , dan selalu menaati peraturan yang sudah ada, karena jika hanya berargumentasi di media sosial saja tidak bertemu langsung tidak dapat menghasilkan jalan keluar dan kepastiannya.
“Untuk semua mari kita belajar dewasalah, dan untuk selalu taat kepada aturan. Saya akhirnya gak mau tahan-tahan nih, nunggu dulu saya, takut salah kan, yang penting kegiatan jangan berhenti, harus jalan. Kalo menuruti media yang cepat, kan kita tidak bisa bertemu secara argumentasi, kalo bertemu kan pasti ada jalannya, ada kepastian.” tutup Pak Hasuri.
- Penulis : Content Writer Orange
- Editor : Iwan
Tinggalkan Balasan