The Beatles, Antara Soekarno dan Anti Imperialisme

Sumber : Pinterest

“Musik Ngak-Ngik-Ngok harus dihapuskan. Para pemuda-pemudi yang bertanggung jawab untuk menghapus pengaruh kebudayaan Barat yang berlebih-lebihan itu.”

Ir. Soekarno

Kutipan diatas merupakan salah satu teks pidato presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno yang menyindir budaya musik barat saat upacara sumpah pemuda di Surabaya.

The Beatles merupakan salah satu band asal Liverpool Inggris yang terbentuk tahun 1963 digawangi John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringgo Starr. 1950-an akhir hingga 1960-an awal merupakan masa-masa dimana Beatles merupakan band paling populer dan berpengaruh dikalangan anak muda seluruh dunia. Dengan berbagai tembang hits membuat anak muda bahkan dewasa di seluruh dunia terkena “sihir” nya.

Namun lain hal dengan Indonesia, negara yang saat itu baru seumur jagung menganut semangat gotong royong yang diinisiasi presiden Soekarno. Soekarno yang dikenal memiliki pandangan anti kolonialisme dan imperialisme barat, mengusung budaya gotong royong yang mengedepankan budaya dan kepribadian ala Indonesia guna menumbuhkan nasionalisme bagi warga negara Indonesia. Hal itulah yang membuat The Beatles, di pandang Soekarno sebagai representatif budaya barat yang tidak cocok untuk Indonesia.

Setelah pidato pada hari sumpah pemuda 1961, dalam usahanya untuk menghapus kan pengaruh musik-musik barat yang masuk dalam kebudayaan Indonesia, Soekarno sempat menceritakan dan bertukar pikiran dengan Ki Hajar Dewantara mengenai musik Rock n Roll dan tarian Twist yang menjadi pengaruh buruk bagi pemuda-pemudi Indonesia. Hasilnya, pemerintah tidak hanya memenjarakan pemusik-pemusik dan menghancurkan piringan-piringan hitam saja, tetapi juga tidak menyediakan pilihan lagu-lagu Barat dalam daftar pilihan musik pendengar.

Puncaknya, pada 28 Juli 1964, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menginstruksikan kepada setiap warga negara membina kepribadian bangsa dalam potongan rambut, pakaian, dan panggilan nama, yang sesuai dengan budaya Indonesia. Hasilnya berbagai aktivitas seperti melarang pemuda yang memotong rambutnya disasak secara berlebih-lebihan karena dianggap jiplakan bangsa lain, lalu dilarang melakukan potongan rambut ala “The Beatles” (gondrong), dalam berpakaian harus diselaraskan dengan kepribadian Indonesia, dan yang terakhir yaitu dilarang menggunakan panggilan ala barat seperti mummy, pappie, daddy, dan panggilan lainnya.

Peristiwa antara Soekarno, The Beatles, dan Anti Imperialisme nya berakhir seiring peristiwa Gerakan Partai Komunis Indonesia pada 30 September. Kejatuhan rezim Soekarno dan naiknya Soeharto menjadi arus balik masuknya budaya barat ke Indonesia hingga kini. Peristiwa antara Soekarno, The Beatles, dan Anti Imperialisme nya berakhir seiring peristiwa Gerakan Partai Komunis Indonesia pada 30 September. Kejatuhan rezim Soekarno dan naiknya Soeharto menjadi arus balik masuknya budaya barat ke Indonesia hingga kini.

Penulis : Rafif

Editor : Iksan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *