Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, 16 Tewas

Sumber: Detik.com

Kecelakaan beruntun di dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menewaskan 16 orang dan melukai 90 lainnya setelah sebuah taksi berhenti di rel dan tertabrak KRL.

Peristiwa bermula sekitar pukul 21.00 WIB saat sebuah taksi Green SM berhenti di tengah rel pada perlintasan sebidang di kawasan Bekasi Timur akibat gangguan teknis. Kendaraan tersebut tidak dapat segera dipindahkan sehingga menghalangi jalur kereta. Dalam kondisi tersebut, KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta menabrak taksi itu, sehingga rangkaian dihentikan untuk pemeriksaan sesuai prosedur keselamatan.

Akibat kejadian ini, perjalanan kereta di jalur tersebut terganggu. Satu rangkaian KRL lain yang mengarah ke Cikarang dihentikan di Stasiun Bekasi Timur sebagai langkah pengamanan untuk mencegah risiko lanjutan.

Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta Surabaya melaju di jalur yang sama. Informasi mengenai KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur tidak diterima tepat waktu oleh masinis. Sistem persinyalan juga tidak menunjukkan kondisi jalur secara akurat. Dengan kecepatan tinggi dan jarak pengereman terbatas, kereta tidak dapat dihentikan dan akhirnya menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti.

Kecelakaan ini mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan 90 orang mengalami luka-luka. Seluruh korban dievakuasi oleh petugas gabungan bersama warga sekitar ke sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi untuk mendapatkan penanganan medis. Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta, dengan bagian depan KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan menembus gerbong khusus wanita pada KRL yang terdampak paling parah.

Sebagian korban luka telah diperbolehkan pulang, sementara lainnya masih menjalani perawatan dan observasi. Pihak operator kereta bersama instansi terkait juga membuka posko darurat serta layanan informasi bagi keluarga korban guna memastikan proses penanganan berjalan terkoordinasi.

Pihak kepolisian bersama instansi terkait melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kecelakaan. Pemeriksaan dilakukan terhadap pengemudi taksi, masinis, serta petugas operasional di lapangan. Evaluasi juga mencakup sistem persinyalan, mekanisme komunikasi perjalanan, dan prosedur penanganan darurat di jalur rel.

Hasil penyelidikan resmi akan menjadi dasar penetapan penyebab utama kecelakaan sekaligus evaluasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa.

Penulis: Siti Safirotun Najwa 
Editor: Alma Shafurahma