Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung KP3B, Kota Serang, Kamis (26/02/2026). Aksi dimulai pukul 16.00 WIB dengan orasi secara bergantian dari perwakilan mahasiswa, pembacaan puisi, serta penyampaian pernyataan sikap atas sejumlah isu daerah dan nasional. Aksi tersebut diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas, organisasi kemahasiswaan, serta himpunan jurusan dalam satu barisan Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Untirta.
Aksi ini merupakan tindak lanjut forum konsolidasi dan teknis lapangan yang digelar sehari sebelumnya, Rabu (25/02/2026), oleh KBM Untirta. Forum konsolidasi tersebut diikuti oleh berbagai elemen mahasiswa lintas fakultas dan organisasi kemahasiswaan yang kemudian menyepakati aksi ini sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara terbuka.
Sebagai bentuk realisasi hasil konsolidasi, massa aksi memadati kawasan KP3B pada sore hari dengan mengenakan almamater dan pakaian berwarna hitam sebagai simbol solidaritas. Sejumlah perwakilan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) turut menyampaikan orasi. Selain orasi, aksi juga diisi dengan pembacaan puisi yang menggambarkan keresahan mahasiswa terhadap kondisi sosial saat ini.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sembilan tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan tersebut meliputi evaluasi proyek strategis di Banten, pengembalian ruang tangkap nelayan, pelaksanaan reforma agraria sejati, jaminan kebebasan pers dan hak sipil, peningkatan kesejahteraan guru serta perbaikan pendidikan, penghentian megaproyek yang dinilai merampas ruang hidup masyarakat, reformasi total Polri, pembebasan tahanan politik, serta transparansi anggaran dan pemerataan pembangunan pendidikan.
Salah satu peserta aksi, Fauzan, menyatakan bahwa demonstrasi ini membawa isu daerah dan isu nasional secara bersamaan.
“Terkait aksi hari ini kita membawakan beberapa tuntutan, di situasi beberapa daerah juga situasi nasional. Untuk terkait aksinya, kita tujukan ke polisi, karena memang banyak sekali tindakan represif aparat,” ujarnya saat diwawancarai langsung oleh LPM Orange (26/02/2026).
Selain menyampaikan tuntutan, massa aksi juga menyoroti gangguan jaringan telekomunikasi selama demonstrasi berlangsung. Sejumlah mahasiswa mengaku mengalami kesulitan mengakses internet dan mengirim pesan sejak aksi berjalan. Kondisi tersebut dinilai janggal karena terjadi saat massa tengah aktif melakukan dokumentasi dan komunikasi.
“Untuk terkait sinyal ini amat sangat janggal, entah karena banyaknya handphone atau gangguan sinyal yang lain atau ada beberapa keterlibatan lain, adanya hack sinyal dari pemerintah,” lanjutnya.
Di penghujung aksi, massa membakar ban di badan jalan sebagai bentuk simbolik protes. Aparat kepolisian terlihat berjaga dan mengawal jalannya demonstrasi hingga selesai. Hingga aksi berakhir pada pukul 17.57 WIB, situasi di sekitar KP3B terpantau kondusif dengan pengawalan aparat keamanan. Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal tuntutan yang telah disampaikan serta membuka ruang dialog dengan pihak terkait.
Penulis: Siti Santinah
Editor: Alma Shafuramah