KRL Lintas Tanah Abang Ke Rangkasbitung Padat Penumpang, Percepatan Headway Jadi Harapan

Riuh langkah kaki dan antrean panjang menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Setiap harinya, para pekerja, pelajar, dan masyarakat umum memadati peron hingga ke dalam gerbong kereta. Terlebih pada jam sibuk, antrean mengular sementara kereta yang datang kerap dalam kondisi penuh sesak, memaksa penumpang berdiri rapat bahkan berdesakkan saat naik. Perjalanan dengan KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung kerap diwarnai kepadatan penumpang.

KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung selama ini menjadi salah satu tulang punggung mobilitas warga Banten dan Jabodetabek. Jalur ini menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat aktivitas di Jakarta, sehingga sangat diandalkan oleh masyarakat untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Tingginya ketergantungan tersebut membuat rute ini sering mengalami kepadatan penumpang. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung beberapa kali mengalami gangguan operasional yang memicu keterlambatan kereta, bahkan memaksa penumpang turun di stasiun tertentu dan menunggu kereta berikutnya. Kondisi ini paling terasa pada jam sibuk pagi dan sore hari, ketika volume arus penumpang berada pada titik tertinggi.

Di sisi lain, jumlah pengguna KRL Jabodetabek juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023, jumlahnya tercatat sekitar 332 juta penumpang, lalu meningkat sekitar 13 persen pada 2024 hingga mencapai 374,49 penumpang. Memasuki 2025, PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) memproyeksikan jumlah pengguna KRL kembali bertambah menjadi 383,78 juta penumpang. Bahkan pada semester pertama 2025 saja, tercatat lebih dari 166 juta penumpang menggunakan layanan KRL, dengan rata-rata sekitar satu juta penumpang per hari. Deretan angka tersebut menegaskan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan KRL.

Keluhan penumpang terkait kepadatan dan ketidaknyamanan perjalanan juga banyak diberitakan. Dikutip dari Liputan6, terjadi penumpukan penumpang di stasiun Tanah Abang pada jam pulang kerja serta keluhan terhadap penerapan Gapeka 2025 yang dinilai belum mampu mengurangi tingkat kepadatan di lapangan. Penumpang mengaku kerap melewatkan beberapa kereta karena rangkaian sudah penuh. 

Kondisi tersebut melatarbelakangi perlunya peningkatan kapasitas dan kualitas layanan KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung, yang kemudian direspons melalui pengembangan infrastruktur dan evaluasi layanan. Salah satunya melalui pembangunan gedung baru Stasiun Tanah Abang yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kenyamanan penumpang. 

Sementara itu, pihak operator tengah menyusun strategi agar pelayanan KRL lebih responsif terhadap kebutuhan penumpang harian. Dalam upaya tersebut, percepatan Headway KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung dibahas bersama sejumlah pemangku kepentingan. Tak hanya itu, melalui program PGC (Project Railway Capacity), target Headway di rute ini dipersingkat menjadi sekitar 4-8 menit mulai pertengahan 2029, dengan harapan pengaturan jadwal yang lebih rapat dapat mengurai kepadatan penumpang.

Kepadatan KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik. Seiring munculnya keluhan penumpang, berbagai upaya peningkatan kualitas dan kapasitas layanan terus disiapkan, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga percepatan Headway. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menghadirkan perjalanan yang nyaman, aman, dan layak bagi jutaan masyarakat yang setiap harinya bergantung pada mobilitas KRL.

Penulis: Fatiya Helcy Azzahra
Editor : Elsa Loenita Damayanti