Ketika Sumatera di Tengah Bencana, Prabowo Justru Dorong Sawit di Papua

Sumber: kompasiana.com, gerbangnusantaranews.id, tribunnews.com

Di tengah kabar duka dari Sumatera yang masih berusaha bangkit memulihkan keadaan akibat banjir dan tanah longsor, publik kembali dihadapkan pada rencana perluasan lahan sawit di Papua. Pada rapat percepatan pembagunan Papua di Istana Negara Jakarta, Selasa, 16 Desember 2025, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencananya mengenai penambahan perkebunan sawit, tebu, dan singkong sebagai langkah menuju kemandirian bioenergi nasional. Pernyataan tersebut menjadi polemik antara pendorong swasembada energi atau justru menimbulkan risiko bencana ekologis serupa di masa depan?

Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta tahun lalu, Prabowo memberikan sambutan dengan menyatakan bahwa perluasan sawit tidak perlu dikhawatirkan. Ia menyampaikan bahwa sawit adalah pohon yang dapat menyerap karbondioksida. Pernyataan ini berkaitan dengan upaya pemerintah untuk mencapai swasembada energi. Sawit akan diolah menjadi biodiesel, sedangkan singkong dan tebu menghasilkan etanol. Jika rencana ini berjalan, pemerintah memperkirakan Indonesia dapat menghemat ratusan triliun rupiah setiap tahun untuk subsidi dan impor bahan bakar minyak.

Namun, faktanya peralihan lahan dan deforestasi di Sumatera justru menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir dan longsor hingga menelan banyak korban jiwa. Laporan National Geographic Indonesia menyatakan bahwa hilangnya hutan hujan melemahkan kemampuan tanah menyerap air dan karbon. Akibatnya, habitat yang kaya akan keanekaragaman hayati ikut menghilang. Bencana Sumatera menjadi gambaran nyata kerusakan lingkungan mempengaruhi keseimbangan alam.

Rencana perluasan sawit di Papua harus mempertimbangkan aspek sosial dan ekologi. Papua bukan ruang kosong, melainkan salah satu kawasan hutan hujan terbesar yang tersisa di dunia. Hutan di wilayah ini berperan sebagai penyimpan karbon dan rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik. Jika wilayah tersebut dibuka untuk sawit, bukan hanya ekosistem yang terancam, tetapi juga kehidupan masyarakat adat Papua.

Bagi masyarakat setempat, hutan adalah sumber hidup, di sana mereka berburu, menanam sagu, dan memanfaatkan tanaman sebagai obat. Tanah adat menjadi bagian dari identitas mereka. Jika hutan berubah menjadi perkebunan sawit, bagaimana mereka mempertahankan hidup serta apa yang dapat mereka wariskan kepada generasi selanjutnya?

Hutan Papua mempunyai peran ekologis yang tidak bisa digantikan. Hilangnya kawasan tersebut akan mempengaruhi kestabilan lingkungan, mulai dari perubahan iklim hingga kepunahan keanekaragaman hayati. Jika rencana perluasan sawit terus didorong tanpa dikaji lebih dalam, maka akan menimbulkan risiko bencana ekologis di masa depan. Oleh karena itu, pemerintah perlu membuka dialog publik, terutama masyarakat Papua yang paling terdampak.

Sumatera menjadi pengingat apa yang akan terjadi ketika hutan menghilang. Sebab itu, menjaga hutan berarti menjaga kelangsungan hidup.

Penulis: Annisa Nurmala Sari