Tampak Tenang Di Balik Tekanan, Realitas Duck Syndrome yang Mengkhawatirkan

Sumber: Pinterest/@Patrick Lecam

Di balik penampilan tenang dan prestasi gemilang, banyak mahasiswa yang sebenarnya tengah berusaha menghadapi tekanan akademis dan kecemasan. Kondisi ini disebut sebagai Duck Syndrome. Sindrom ini diibaratkan sebagai bebek yang terlihat tenang mengapung di atas air, sementara kakinya mengayuh dengan kuat di bawahnya. Para mahasiswa kerap menyembunyikan tekanan agar selalu tampak sempurna.

Menurut Ratnaningrum, dalam artikel ilmiahnya yang berjudul “Komunikasi Asertif pada Mahasiswa Duck Syndrome di Mojokerto,” duck syndrome didefinisikan sebagai perilaku seseorang yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya sedang merasakan kecemasan. Pandangan ini menjelaskan kondisi psikologis individu dalam menyembunyikan tekanan di balik wajah yang tenang.

Kemudian, penjelasan lain diungkapkan melalui berita “‘Floating Duck Syndrome’ Tricks People Into Working Hard but Failing to Achieve Their Goals,” yang diunggah Cambridge University. Duck syndrome dikenal sebagai sindrom bebek mengapung yang mengharuskan seseorang bekerja keras, tetapi sering kali berujung pada kegagalan. Misalnya, ketika seseorang tampak dengan mudah meraih kesuksesan atau terlihat ‘sempurna’, orang lain mungkin beranggapan bahwa kesuksesan dapat diraih dengan mudah. Akibatnya, motivasi mereka dalam proses mencapai tujuan berkurang, sehingga usaha yang dilakukan menjadi kurang optimal.

Kedua pandangan tersebut tidak hanya menggambarkan bagaimana duck syndrome memengaruhi kondisi mental, tetapi juga mengubah persepsi seseorang mengenai kesuksesan.

Sindrom ini sering dibandingkan dengan kehidupan mahasiswa yang tampak tenang, meskipun sebenarnya terus berusaha keras agar tetap kompetitif dalam lingkungan akademis. Tidak jarang mereka menyembunyikan rasa lelah, baik secara mental maupun fisik, demi menjaga citra diri yang kuat dan sukses.

Kondisi ini dialami langsung oleh Naila Zhafira, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi UNTIRTA, saat mengikuti lomba debat. Ia mengaku merasa malu jika orang lain mengetahui proses perjuangannya, sehingga memilih untuk tetap terlihat santai. 

“Saat saya sedang mempersiapkan diri untuk lomba debat di kampus, saya berusaha untuk tetap enjoy di kelas atau di mana pun, karena tentunya saya tidak ingin terlihat sedang banyak pikiran atau masalah. Saya tidak ingin orang lain tahu kesulitan apa yang sedang saya alami. Sehingga, nantinya saya akan malu kalau orang lain tahu saya kalah, meskipun kenyataanya saya menang lomba tersebut,” ucap Naila, saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (24/03/2025).

Selain itu, Ratnaningrum juga menjelaskan bahwa indikasi lain dari duck syndrome adalah kecenderungan untuk menutup diri dan enggan berbagi beban dengan orang lain. Hal ini juga dialami oleh Naila, yang merasa bahwa menceritakan masalahnya kepada orang lain hanya akan menyebarkan energi negatif kepada pendengarnya.

Untuk membantu mahasiswa menghadapi kondisi ini, artikel tersebut menguraikan beberapa langkah efektif dalam mengatasi duck syndrome. Salah satunya adalah menghadirkan program pendampingan atau konseling bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan kampus. Pendampingan ini dapat dilakukan oleh kakak tingkat atau teman sebaya yang ditunjuk, baik oleh dosen maupun oleh HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang bersangkutan. Selain itu, dosen pembimbing akademik juga berperan penting dalam mendukung dan mengoptimalkan prestasi mahasiswa yang mengalami duck syndrome.

Dengan memahami fenomena duck syndrome, kita dapat lebih menyadari bahwa di balik ketenangan seseorang, mungkin tersimpan perjuangan yang tidak terlihat. Maka dari itu, menyadari bahwa setiap individu memiliki perjuangan masing-masing dapat menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, alih-alih terjebak dalam tekanan untuk selalu tampak sempurna, mahasiswa dapat belajar untuk menerima diri sendiri, mengatur rasa cemas, berbagi beban dengan orang lain, dan membangun strategi yang sehat dalam menghadapi tantangan akademik serta kehidupan secara keseluruhan.

SINOPSIS

Duck syndrome menggambarkan kondisi seseorang yang tampak tenang, tetapi sebenarnya sedang berusaha keras menghadapi tekanan dan kecemasan. Fenomena ini sering terjadi pada mahasiswa yang ingin terlihat sukses dan kuat, sehingga cenderung menutup diri dan enggan berbagi beban, yang justru memperparah tekanan mental. Untuk mengetahui hal ini, diperlukan dukungan melalui berbagai program psikologis agar mereka dapat menghadapai tekanan akademis dengan lebih sehat secara mental.

Penulis: Farah Adibah

Editor: Muthia Zahra