Halo Orangers! kita semua tahu, bulan September seringkali menjadi saksi bisu berbagai peristiwa kelam dan mengguncang di masa lalu. Di Indonesia sendiri, bulan September dikenal sebagai ‘September Hitam’ karena di bulan ini terjadi banyak sekali tragedi yang meninggalkan luka mendalam dalam sejarah bangsa, seperti kekerasan, pembunuhan massal, dan pelanggaran HAM. Rentetan kejadian kelam tersebut diantaranya, Tragedi 65 atau pemberontakan G30S PKI pada 30 September 1965, Peristiwa Tanjung Priok pada 13 September 1984, Tragedi Semanggi II pada 24-28 September 1999, Pembunuhan aktivis HAM, Munir pada 7 September 2004, dan Aksi Demonstrasi Reformasi Dikorupsi pada September 2019.
Dalam Cup Of Tea kali ini, kita akan mengulik makna puisi “September Mengerikan” karya Pulo Lasman. Kita akan mengulik makna tentang bagaimana puisi ini menjadi peringatan sekaligus refleksi sosial bagi masyarakat Indonesia. Dalam puisinya Pulo Lasman Simanjuntak dengan mahir memanfaatkan bulan September sebagai alasan untuk meluapkan ekspresi yang penuh emosi, menyiratkan bulan September bukan sekedar satu bulan di kalender, tetapi juga representasi dari berbagai ketidakadilan dan penderitaan yang terjadi.
Misalnya, dalam bait yang berbunyi, “September berdarah, senyap diiringi air mata, jiwa-jiwa dipisahkan dari jasadnya” Lasman menggunakan kata “berdarah” yang merujuk pada kekerasan dan kematian. Lalu “senyap diiringi air mata” memberikan gambaran keheningan penuh kesedihan, seolah-olah dunia berhenti sejenak untuk berduka atas kehilangan yang tragis. Bait ini memperlihatkan bagaimana penderitaan sering kali terjadi dalam diam, tersembunyi dari sorotan publik, namun tetap membekas di hati mereka yang merasakannya.
Pada bait lain, “Sejarah tertulis dengan tinta hitam, noda takkan sirna meski waktu berjalan” Lasman mengingatkan kita bahwa peristiwa kelam dalam sejarah tidak akan pernah terhapus, meskipun waktu terus berlalu. Dengan bait ini, Lasman mengajak pembaca untuk tidak melupakan masa lalu, tetapi menjadikannya pelajaran agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Dengan keindahan dan kekuatan bahasanya, puisi ini mengajarkan pentingnya memahami dan merenungkan kejadian tragis di masa lalu. Semoga puisi ini menginspirasi kita untuk terus merenungkan nilai-nilai kehidupan di setiap langkah perjalanan kita. Sampai jumpa di Cup Of Tea minggu depan!
Penulis : Shafira Rahma
Editor : Nawal Najiya