Marak Konten Pornografi Pada Anak Picu Kasus Pelecehan Seksual

Sumber: ©Freepik

Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam menjamin hak-hak anak serta melindungi dari diskriminasi dan kekerasan. Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan fakta di lapangan karena akhir-akhir ini banyak terjadi kasus kekerasan seksual anak di Indonesia.

Di tengah meningkatnya kasus pelecehan anak, muncul kekhawatiran baru mengenai konten pornografi yang banyak menyasar kalangan anak-anak. Menurut data yang dirilis National center for missing exploited children (NCMEC), korban pornografi anak di Indonesia dalam 4 tahun terakhir mencapai 5,5 juta. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai peringkat kempat dengan kasus pornogorafi anak terbanyak di dunia dan peringkat kedua di ASEAN.

Pesatnya arus digital menjadikan konten pornografi dapat dengan mudah diakses oleh semua orang, termasuk anak-anak. Konten pornografi yang semakin mudah diakses di era digital, menjadi salah satu faktor eksternal yang memperburuk masalah ini. Anak-anak yang terpapar konten pornografi secara berulang memiliki kemungkinan untuk melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilihatnya. Hal ini dapat mendorong individu yang memiliki kontrol diri lemah untuk melakukan pelecehan seksual.

Menurut Psikolog, Astiti Tenriawu, pelecehan yang terjadi karena konten pornografi disebabkan oleh beberapa aspek yang lemah dalam diri individu dan ketidakmampuan dalam mengontrol keinginannya. Astiti juga menambahkan bahwa faktor seseorang melakukan pelecehan bisa jadi karena sebelumnya pernah mengalami kejadian yang sama sehingga memiliki keinginan untuk melakukan hal tersebut kepada orang lain. 

Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa paparan konten pornografi pada anak-anak dapat memicu permasalahan psikologis mereka, terlebih jika konten tersebut dikonsumsi secara terus menerus oleh anak-anak. 

“Dampak yang dapat terjadi akibat konten pornografi adalah kecanduan atau keinginan untuk melihat konten yang sama secara berulang yang secara umum dapat melemahkan fungsi otak, perilaku pelecehan, seks bebas, kehamilan di luar nikah, mengalami hambatan dalam konsentrasi dan belajar, serta masalah interaksi sosial,” ucap Astiti ketika diwawancarai oleh Orange via direct message (27/7/2024).

Untuk mengatasi kecanduan terhadap konten pornografi pada anak-anak, diperlukan langkah-langkah preventif untuk menghindari dan meminimalisasi kemungkinan anak-anak dalam mengakses konten pornografi. Orang tua harus berperan aktif dalam memantau akses anak-anak terhadap konten digital dan memberikan edukasi mengenai dampak negatif pornografi. 

Astiti menyampaikan bahwa pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak, termasuk dalam permasalahan seksual dan diperlukan adanya aturan yang tegas dan konsisten agar anak-anak dapat memahami konsekuensi dari setiap tindakan mereka. 

“Dibutuhkan aturan tegas dan konsisten sehingga Ananda bisa memahami konsekuensi dari apa yang dilakukannya, dan yang paling penting adalah orang tua dapat menjalankan perannya sebagai teman yang dapat diajak bercerita oleh anak-anaknya sehingga mereka dapat menceritakan isi pikiran dan perasaannya, termasuk hal yang berkaitan dengan permasalahan seksual,” jelas Astiti (27/7/2024).

Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, diharapkan kasus pelecehan anak dan konten pornografi dapat ditekan sehingga menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak serta melindungi mereka dari berbagai kekerasan seksual.

Penulis: Aidah

Editor: Ira Nazliyah