Self Branding Sebagai Wujud  Empowerment: Membangun Identitas dan Relasi di Instagram

Sumber: INTR-O Realita

Di era digital ini, Instagram telah menjadi platform media sosial utama bagi Gen Z untuk membangun ‘self branding’ yang sempurna. Hal tersebut dapat membentuk persepsi positif dari khalayak luas terhadap diri mereka meliputi kepribadian dan kemampuannya. Bagi banyak Gen Z, Instagram bukan hanya platform untuk berbagi foto dan video, tetapi juga alat untuk mengekspresikan diri, meningkatkan popularitas, menjalin hubungan sosial, membangun citra diri dan persona online yang unik. Bahkan dapat menarik perhatian dalam konteks profesional maupun personal.

Nadila Alsadila, mahasiswi Ilmu Komunikasi yang menerapkan self branding positif di Instagram mengungkapkan bahwa tujuan utamanya mengimplementasikan hal tersebut karena ingin dipandang sebagai orang yang aktif, memiliki manner dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Branding yang dibangun olehnya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan membuka peluang kerja dan relasi dari orang-orang hebat.

Menjadi public speaker yang hebat merupakan fokusnya dalam membranding diri. Sehingga orang lain memandang Nadila sebagai orang yang komunikatif  individu yang aktif, memiliki nilai 3B (Brain, Beauty, Behavior), independen dan komunikatif. Karenanya ia dapat membagikan ilmunya terkait tips dan trik berbicara di depan umum berbekal pengalaman yang ia miliki. Hal ini sangat berdampak baik pada hubungan sosialnya dengan orang lain.

Self branding yang baik bahkan berpengaruh pada saat ingin mendaftar organisasi. Nadila juga merasakan dampak positif ini, ia mengatakan bahwa pengurus organisasi atau kepanitiaan akan memeriksa media sosial, khususnya Instagram pendaftar untuk menilai apakah layak bergabung dengan organisasi atau panitia tersebut.

“Setiap organisasi atau panitia yang sedang membuka rekrutmen kepanitiaan pasti menginginkan anggota yang komunikatif dan memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Biasanya, mereka akan melihat sosial media kita sebagai bahan riset layak atau tidaknya kita tergabung dalam organisasi atau kepanitiaan,” ujarnya (05/06/2024).

Selain Nadila, dampak positif dari membangun self branding di Instagram juga dirasakan oleh Indri, mahasiswi Ilmu Komunikasi yang membranding dirinya sebagai seseorang yang komunikatif dan aktif dalam organisasi. Tujuan utamanya menerapkan hal tersebut adalah untuk membangun hubungan sosialnya dengan orang lain. Ia berpikir kalau kebanyakan pengikut atau audiensnya di Instagram merupakan orang-orang yang hanya mengenalnya lewat sosial media dan tidak kenal secara mendalam.

Dengan adanya self branding, ia merasa lebih dikenal oleh audiensnya sebagai orang yang memiliki bakat. Orang-orang jadi lebih tahu tentang dirinya, misalnya seperti di mana ia jadi pemateri, apa saja lomba atau kegiatan positif yang pernah ia ikuti, serta organisasi apa yang sedang ia jalani. Indri juga merasakan dampaknya pada hubungan sosial secara profesional.

“Waktu itu UKM yang aku ikuti sedang mengadakan acara dan mencari pembawa acara, karena panitia acaranya follow Instagram aku dan pernah lihat aku menjadi pembawa acara, jadi dia langsung minta aku buat jadi pembawa acara di acara tersebut,” ujarnya (03/06/2024).

Dalam konteks organisasi, Indri juga merasakan dampak positifnya. Ia mengatakan, ketika mengisi formulir pendaftaran organisasi, terdapat keterangan untuk mencantumkan nama pengguna Instagram. Ia berpendapat bahwa brandingnya di Instagram mempengaruhi penilaian pengurus organisasi tersebut.

“Walaupun mungkin aku kurang di pemberkasan untuk daftar di organisasi, tapi kalau misalkan self branding aku di Instagram bagus, nantinya akan membuat penasaran pengurus di organisasi tersebut, karena mungkin dilihat dari media sosialnya dulu. Oleh karena itu, menjaga jejak digital merupakan sesuatu yang penting banget,” ucapnya (03/06/2024).

Meskipun terdapat banyak hal positif dan keuntungan dari membangun self branding, tidak menutup kemungkinan munculnya komentar negatif. Indri juga merasakan dampak negatifnya, seperti harus melawan rasa takut akan tekanan dari orang-orang yang menaruh ekspektasi tinggi terhadapnya. Dampak negatif lainnya juga dirasakan oleh Nadila. Ia pernah mendapatkan komentar negatif, tetapi hal tersebut tidak membuatnya merasa down. Ia menyadari bahwa orang yang berpandangan negatif terhadap pencapaian orang lain biasanya iri dan ingin berada di posisinya, namun tidak bisa.

Penulis: Muthia

Editor: Jiya