Image Source: iNews.id
Philipus Joko Pinurbo atau kerap kali dikenal sebagai Jokpin, seorang arsitek kata-kata dalam dunia puisi Indonesia, lahir di tanggal 11 Mei 1962, Sukabumi. Lewat sapuan lembut dan kecerdasannya yang mengagumkan, ia membawa pembaca dalam perjalanan merenung, tersenyum, bahkan tertawa, menyelami kehidupan sehari-hari dengan penuh kebijaksanaan. Dengan gaya yang unik, Joko Pinurbo menciptakan dunia yang memesona dari kata-kata sederhana, mengungkapkan keajaiban dalam rutinitas yang biasa, dan meninggalkan jejak abadi dalam jiwa setiap orang yang meresapi karyanya.
Joko Pinurbo telah mengukir sejumlah karya yang menginspirasi dan memiliki arti yang mendalam, seperti puisi Cita-Cita, Bunga Azalea, Tengah Malam, Di Atas Meja, Kamus Kecil dan masih banyak lagi. Setiap karyanya memiliki ciri khas yang memikat hati para pembaca dan pecinta puisi, meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam dunia sastra.
Selain merangkai puisi, Joko Pinurbo juga menorehkan tinta pada beberapa buku yang kini masih menjadi kegemaran dari pencinta puisi. Buku-buku yang akan terkenang abadi dari setiap pahatan kata, seperti buku Kekasihku, Surat Kopi, Telepon Genggam, Bulu Matamu: Padang Ilalang, Sepotong Hati di Angkringan, Berguru Kepada Puisi, Malam Ini Aku Tidur di Matamu, dan masih banyak lagi.
Sebuah persembahan yang merentangkan kerinduan, tersirat dalam sebuah larik puisi pada buku ‘Pejamuan Khong Guan.’
“Kamu yakin yang kamu minum dari cangkir cantik itu kopi?
Itu racun rindu yang mengandung aku”
Keindahan kata-kata ini dapat menggambarkan rindu yang sangat dalam. Hal-hal sederhana bisa membuat kita merindukan seseorang dengan sangat kuat. Penulis seakan-akan terlibat dalam “racun rindu” yang mempengaruhi setiap tegukan kopi yang akan diminum.
Kemudian, dalam perjalanan karir Joko Pinurobo dimulai ketika ia lulus dari studinya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta. Menulis puisi adalah kegemaran dan sudah menjadi fokusnya sejak masa SMA. Berkat prestasinya, Jokpin telah meraih banyak penghargaan yang beragam: Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).
Namun, pada tanggal 27 April 2024 di usianya yang ke 61 tahun, Joko Pinurbo meninggal dunia. Meskipun fisiknya telah meninggalkan bumi, karyanya terus mengalir dalam lautan emosi dan inspirasi. Mesinnya mungkin berhenti berputar, tetapi pesan-pesan yang ia sampaikan melalui kata-kata masih menyala dalam kegelapan. Rest In Peace Joko Pinurbo.
Penulis: Nadya Bella Arthamevira
Editor: Nawal Najiya