Mengapa Dunia Tidak Pakai Satu Bahasa Saja? Ini Alasannya!

sumber: pinterest; Shrikant Patel

Di dunia ini, ada lebih dari 7.000 bahasa yang dituturkan manusia. Setiap bahasa lahir dari sejarah, budaya, hingga identitas kelompok yang berbeda. Dari bahasa suku kecil di pedalaman, hingga bahasa internasional yang dipelajari jutaan orang, semuanya memiliki peran penting. Namun, di era globalisasi yang menuntut keseragaman, pernahkah terlintas mengapa kita tidak sepakat memakai satu bahasa saja di seluruh dunia?

Menurut Luca Cilibrasi dalam Why Don’t We All Speak the Same Language? Some Reflections on the Role of Cognition, sejak zaman purba, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil atau tribal. Dalam kehidupan semacam itu, bahasa berfungsi sebagai identitas yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Hal ini sejalan dengan teori antropologi yang menjelaskan bahwa nenek moyang kita sengaja menciptakan bahasa berbeda agar tidak mudah dimengerti oleh kelompok lain. Hasilnya, satu wilayah kecil saja bisa memiliki ratusan bahasa. Contohnya seperti di Papua Nugini, luasnya seukuran Spanyol, tetapi memiliki sekitar 700 bahasa.

Dari sisi kemampuan otak, keberagaman bahasa justru membawa banyak manfaat. Belajar atau sekadar terekspos bahasa asing mampu merangsang koneksi saraf, memperkuat memori, hingga melatih cara berpikir kreatif. 

Oleh karena itu, seragamnya bahasa di seluruh dunia ternyata menyimpan risiko. 

Menurut Bright Side dalam video What If All 7 Billion People Spoke One Language, sebuah simulasi imajiner menunjukkan bahwa, kemampuan otak manusia bisa menurun jika tidak dilatih dengan banyak bahasa. Kosakata bisa menyusut, humor dan puisi terasa hambar, bahkan otak berpotensi menjadi lebih malas.

Jadi, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan budaya dan lingkungan. Misalnya, masyarakat yang tinggal di daerah bersalju memiliki banyak kata berbeda untuk menggambarkan jenis-jenis salju, dari salju lembut, salju basah, hingga salju yang membeku keras. Sebaliknya, masyarakat di daerah tropis lebih kaya kosakata untuk menggambarkan ragam warna hijau pada pepohonan dan tanaman. Jika semua bahasa diseragamkan, kekayaan ekspresi unik seperti ini bisa hilang, membuat dunia terasa serba sama.

Walaupun saat ini dunia sudah memiliki lingua franca seperti bahasa Inggris yang menjadi sarana komunikasi antarbangsa, keberagaman bahasa tetap tidak bisa diabaikan. Bahasa bersama memang mempermudah interaksi global, tetapi setiap negara, daerah, ataupun suku tetap punya dorongan untuk mempertahankan bahasanya sendiri sebagai identitas. Pada akhirnya, tarik-menarik antara kebutuhan global akan satu bahasa dan dorongan alami manusia menjaga keragaman terus berjalan beriringan.

Jadi, meski satu bahasa dunia terdengar praktis, realitasnya jauh lebih kompleks. Dunia kita mungkin memang lebih menarik karena keberagaman bahasa, walaupun terkadang harus membuka kamus atau aplikasi penerjemah.

Ide tentang satu bahasa untuk seluruh dunia memang terdengar praktis, tetapi kenyataannya justru perbedaan bahasa yang membuat hidup lebih menarik. Sejak dulu, bahasa lahir sebagai identitas tiap kelompok. Dari sisi otak, keberagaman bahasa bisa melatih daya ingat dan kreativitas. Dari sisi budaya, setiap bahasa menyimpan cara pandang unik tentang dunia yang akan hilang jika semuanya diseragamkan. Walaupun globalisasi mendorong hadirnya bahasa bersama seperti bahasa Inggris, manusia tetap butuh mempertahankan bahasa sendiri sebagai bagian dari jati diri. Satu bahasa mungkin terasa mudah, tetapi ribuan bahasa membuat dunia lebih berwarna dan penuh cerita.

sumber:

Bright Side. (2019, May 27). What if all 7 billion people spoke one language?

Cilibrasi, L. (2020). Why don’t we all speak the same language? Some reflections on the role of cognition. International Journal of Linguistics, 12(3), 127–136. 

https://macrothink.org/journal/index.php/ijl/article/view/17063/13318

Penulis: Nadira Zahra Alifa

Editor: Muthia Zahra