Scroll Medsos Bikin Stress? Mungkin Kamu Kena Doom Scrolling!

Scroll Medsos Bikin Stress? Mungkin Kamu Kena Doom Scrolling!
Sumber: alodokter.com

Arus informasi di era digital tak selalu membawa dampak positif. Algoritma media online cenderung mendorong dominasi konten negatif di berbagai platform. Tanpa disadari, masyarakat terus menggulir layar dan akhirnya terjebak dalam doom scrolling yang memicu kecemasan dan stres.

Menurut Yoki Yusanto, dosen Jurnalistik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, doom scrolling dapat diartikan sebagai perilaku individu yang terus menerus menggulir dan mengonsumsi berita berisi informasi negatif yang diakses dari media digital atau sosial media. Perilaku ini dapat menimbulkan perasaan takut, cemas dan stres bagi pembaca.

Sebagai pembaca berita aktif, Dinar Ariani mengaku pernah mengalami doom scrolling. Ketika terlalu banyak mengonsumsi berita negatif di media sosial, ia jadi merasa cemas dan stres. Menurutnya, ia terkadang seolah terbawa oleh algoritma media, tanpa menyadari bahwa fokusnya telah beralih pada berita negatif. Dinar mengaku sulit untuk tidak terbawa algoritma pada berita yang sedang naik.

Sumber: klikdokter.com

“Kalau berita negatifnya lagi naik, saya selalu penasaran dan terbawa oleh algoritma untuk mengulik lebih dalam terkait berita tersebut. Itu yang ngebuat saya terkadang kehilangan kontrol dalam mengkonsumsi berita negatif di social media,” ucapnya saat diwawancarai oleh LPM Orange melalui WhatsApp (01/07/2025).

Oleh karena itu, untuk meminimalisir terjadinya doom scrolling pada pembaca, Yoki menjelaskan bahwa peran jurnalis dan redaksi sangat diperlukan.

“Jurnalis harus bisa menghindari judul berita yang sensasional, sebaiknya jurnalis dan redaksi juga menjadwalkan konten dengan baik agar tidak berlebihan serta transparansi dan akurasi terhadap berita juga diperlukan,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange melalui WhatsApp pada (30/06/2025).

Namun, selain jurnalis dan redaksi, Yoki menambahkan bahwa pembaca juga perlu dibekali dengan literasi digital yang baik untuk menghindari kecemasan berlebih.

“Pembaca juga perlu untuk meningkatkan kemampuannya dalam memilah informasi, lalu menciptakan pemikiran kritis terhadap narasi pada berita dan mengurangi pendekatan emosional terhadap berita yang dibaca,” lanjutnya.

Sebagai pembaca, Dinar juga memiliki solusi agar tidak terkena dampak dari doom scrolling, yaitu dengan cara mengalihkan perhatiannya pada hal yang membuatnya bahagia, contohnya seperti membaca berita dengan informasi positif di dalamnya.

Kecanduan untuk menggulir layar saat membaca informasi tentunya menjadi kebiasaan pengguna sosial media. Terlebih, saat ini informasi yang sering dimuat pada media digital cenderung berfokus pada berita negatif. Apabila dibiarkan berlarut hingga tak kenal waktu, pembaca akan terkena dampak dari doom scrolling. Oleh karena itu, edukasi literasi digital perlu digaungkan guna memberikan pengetahuan terhadap para pembaca.

Penulis: Farah Adibah
Editor: Mutia Azahra