Quarter Life Crisis Saat Hidup Terus Bergegas, tapi Jiwa Masih Mencari Napas

Di usia dua puluhan, banyak mahasiswa yang mulai mempertanyakan arah hidup, tujuan karier, relasi sosial, hingga eksistensi dirinya di tengah masyarakat yang kompetitif. Mereka dihadapkan pada tekanan akademik, ekspektasi keluarga, serta pengaruh media sosial yang menuntut untuk cepat berhasil dan mampu bersaing, bahkan ketika arah hidupnya sendiri belum jelas. Kebingungan akan masa depan, tekanan untuk segera sukses, serta kecemasan dalam mengambil keputusan, menjadi bagian dari fase ini. Fenomena tersebut dikenal sebagai Quarter Life Crisis.

Cristine Natalie, mahasiswa Ilmu Pemerintahan UNTIRTA, mengaku pernah merasakan kegelisahan serupa saat menempuh masa kuliah, “paling bingung itu mau kemana, mau jadi apa,” ujarnya saat diwawancarai secara langsung oleh LPM Orange (5/5/2025). Perasaan tersebut mencerminkan kompleksitas beban yang dihadapi mahasiswa, baik secara akademik maupun eksistensial.

Sumber: pinterest/@silda

Hal serupa diungkapkan oleh Rahadatul Aisyi Rafillah, mahasiswa semester enam dari program studi yang sama. Ia menilai bahwa Quarter Life Crisis (QLC) tidak hanya disebabkan oleh ketakutan akan masa depan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan paparan media digital. Menurutnya, pengaruh lingkungan pertemanan hingga media sosial yang buruk, dapat berdampak terhadap kesehatan mental seseorang dan berakhir dengan QLC.  Keresahan ini menunjukkan bahwa QLC tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis mahasiswa, tetapi juga berhubungan erat dengan faktor sosial yang membentuk kehidupannya. 

“Lingkungan pertemanan atau keluarga yang sering membanding-bandingkan, ditambah lagi media sosial yang dipenuhi konten-konten yang memberi kesan ‘kerja susah, lulus kuliah nganggur, beasiswa sulit’ yang bisa bikin mental down dan berujung QLC,” ujarnya saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (5/5/2025). 

Menurut Gilang Ramadhan, dosen Sosiologi Antropologi FISIP UNTIRTA, salah satu penyebab fenomena ini adalah kurangnya dukungan sosial, terutama dari keluarga. Sebagai pilar pertama pembentukan jati diri, keluarga sangat berpengaruh terhadap kesiapan seseorang menghadapi kehidupan.

“Keluarga itu adalah pilar pertama dalam kehidupan sosial manusia. Pembentukan jati diri seseorang itu dimulai di keluarga, dan jika ada ketimpangan dalam keluarga, seperti perceraian atau ketidakhadiran orang tua, bisa menyebabkan anak tidak siap menghadapi tantangan kehidupan,” terang Gilang, saat diwawancarai melalui Google Meet oleh LPM Orange (5/5/2025). 

Gilang menambahkan bahwa pergeseran budaya kerja turut memperparah ketimpangan dalam keluarga. Dahulu, pekerjaan biasanya selesai pada pukul lima sore, sehingga orang tua memiliki waktu untuk fokus merawat anak. Namun, kemajuan teknologi seperti media sosial dan kemudahan komunikasi menyebabkan pekerjaan dapat mengganggu waktu keluarga. Seorang atasan kini dapat menghubungi karyawan kapan saja, bahkan di luar jam kerja, hal ini membuat orang tua menjadi kesulitan dalam mengatur waktu bersama anak. Situasi ini menyebabkan perhatian orang tua kepada anak-anak menjadi terbagi, sehingga anak merasa kurang mendapat bimbingan emosional dan nilai-nilai dasar yang seharusnya diajarkan dalam keluarga.

Sumber: pinterest/@Douglas Bush

Menurutnya, anak yang sejak kecil hanya dipenuhi kebutuhan fisiknya tanpa diajarkan nilai, tanggung jawab, dan kedekatan emosional cenderung tidak siap menghadapi tekanan hidup saat dewasa. Saat memasuki perguruan tinggi, banyak yang kesulitan beradaptasi karena kurangnya dukungan dari rumah. Ketika memasuki dunia kerja, tekanan untuk segera sukses dan memenuhi tuntutan karier pun menjadi lebih berat, sementara kesiapan emosional belum sepenuhnya terbentuk.

Beragam tuntutan inilah yang membuat Quarter Life Crisis semakin sering dialami mahasiswa. Tekanan sosial yang sering kali tidak realistis dari keluarga, teman, maupun media sosial turut memperburuk keadaan. Akibatnya, banyak individu di usia dua puluhan mengalami kecemasan dan krisis identitas.

Meski begitu, QLC bukanlah akhir dari segalanya. Justru, fase ini bisa menjadi peluang untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Dengan kesadaran diri, dukungan sosial, serta pandangan hidup yang realistis, mahasiswa dapat menjadikan krisis ini sebagai batu loncatan menuju kedewasaan. Perlu diingat bahwa hidup bukanlah perlombaan, setiap orang memiliki ritmenya sendiri. Kesuksesan tidak diukur dari kecepatan, melainkan dari pemahaman dan makna dalam menjalani proses. Menghadapi krisis ini berarti belajar berdamai dengan diri sendiri di tengah dunia yang terus berubah.

Penulis: Angeli Ramadhani

Editor: Muthia Zahra