Tak Kenal Risiko dan Pilih Barang Murah, Pakaian Thrift di Live TikTok Ancam Produk Lokal

Di tengah fenomena belanja online, pembelian pakaian thrift di live TikTok kian digandrungi. Meski berisiko tak mendapat barang incaran, banyak orang tetap memilih pakaian thrift dikarenakan harga yang lebih murah ataupun perasaan FOMO (Fear Of Missing out). Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran apakah produk dalam negeri akan mampu bertahan di tengah derasnya arus barang impor?

Ria Firawati, mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), berbagi pengalamannya dalam membeli pakaian thrift melalui live Tik Tok. Menurutnya, ada beberapa alasan utama mengapa ia lebih memilih cara belanja ini, salah satunya adalah keseruan dalam mendapatkan barang incaran yang menantang dan memacu adrenalin, “ada serunya, tapi juga deg-degan karena kita harus rebutan sama banyak orang. Kadang kalau telat sedikit aja, barang yang kita incar bisa langsung sold out,” ujar Ria saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (19/03/2025).

Selain itu, kepraktisan juga menjadi faktor penting. Dibandingkan harus mengunjungi toko offline, belanja pakaian thrift secara online melalui live TikTok dianggap lebih efisien, “kalau ke toko langsung, kita harus datang ke tempatnya, butuh waktu dan tenaga lebih. Sedangkan di live TikTok, kita bisa belanja sambil santai di rumah, lihat banyak pilihan dalam satu waktu, dan kadang dapat harga lebih murah,” tambahnya (19/03/2025).

Pendapat lain mengenai fenomena pembelian pakaian thrift melalui live tiktok ini juga datang dari Hady Sutjipto, yang merupakan dosen Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, fenomena ini berkaitan dengan hukum permintaan dan penawaran. Keterbatasan stok pakaian thrift yang dijual di live TikTok menciptakan kondisi kelangkaan (scarcity). Dengan permintaan yang tinggi dan stok terbatas, persaingan antar pembeli menjadi semakin ketat sehingga barang terasa lebih bernilai dan diinginkan.

Selain itu, teori utility atau nilai guna juga menjadi faktor pendorong. Bagi pembeli pakaiam thrift, mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga aslinya memberikan kepuasan tersendiri, “misalnya harga di toko resmi itu 1 juta, ketika menemukan produk yang sama di toko thrift online dengan harga 300 ribu, ya tentu dengan harga yang jauh lebih rendah itu dia merasakan kepuasan lebih tinggi dibandingkan dengan membeli produk baru dengan harga full,” jelas Hady Sutjipto saat diwawancarai melalui WhatsApp oleh LPM Orange (19/03/2025).

Faktor psikologis seperti Fear Of Missing out (FOMO) juga berperan penting. Banyak pembeli terdorong untuk segera membeli karena takut kehilangan kesempatan mendapatkan barang langka yang mereka inginkan, “karena mekanisme first come, first service atau lelang cepat. Siapa cepat, dia dapat. Misalnya, ketika seseorang melihat celana jeans Levi’s yang dulu terkenal dan kini mulai langka, tapi masih ada di pasaran, apalagi dengan harga murah, tentu banyak orang tertarik. Karena takut kehabisan, mereka cenderung langsung membelinya tanpa banyak berpikir,” tambahnya (19/03/2025).

Dari sudut pandang ekonomi digital, kemudahan transaksi melalui platform e-commerce juga menjadi faktor pendukung. Dengan metode pembayaran digital dan sistem transaksi yang cepat, belanja thrift online terasa lebih praktis dibandingkan harus mendatangi toko fisik.

Seiring meningkatnya fenomena belanja pakaiam thrift yang didominasi oleh barang impor, timbul pertanyaan mengenai seberapa besar fenomena ini memengaruhi perekonomian secara lebih luas. Hady Sutjipto menyoroti bahwa jika fenomena ini terus berlangsung, maka produk lokal dapat semakin tersingkir. Masyarakat cenderung lebih memilih pakaiam thrift impor dengan harga murah dibandingkan produk lokal yang sedikit lebih mahal. Hal ini dikhawatirkan dapat mengurangi daya saing industri dalam negeri. 

”Tapi kalau semua pelaku pedagang seperti itu, beberapa produk lokal akan tersingkir ya, seperti yang sekarang terjadi. Jadi artinya kita banjir barang-barang import, walaupun dengan harga murah dan mungkin orang melihat karena barang brandednya, kemudian harga tidak jauh beda dengan harga baru di produk lokal. Jadi ini akan menghilangkan apa yang disebut dengan program cintailah produk-produk dalam negeri,” ujarnya (19/03/2025).

Dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang mana daya beli masyarakat masih cenderung mencari harga yang lebih murah, fenomena belanja pakaian thrift online diperkirakan akan terus berkembang. Di sisi lain, jika pola konsumsi ini tidak diimbangi dengan kesadaran untuk mendukung produk lokal, maka bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Fenomena pembelian thrift di live TikTok bukan sekadar fenomena belanja, tetapi juga mencerminkan perilaku ekonomi masyarakat yang lebih memilih harga murah meskipun dengan risiko tinggi. 

Penulis: Nadira Zahra Alifa

Editor: Muthia Zahra