Tradisi Anti-Kasur Desa Kasuran, Yuk Cari Tahu Mitos di Baliknya! 

Halo, sobat Orange! Lagi ngapain nih? Cuaca mendung banget ya, pas banget buat santai-santai sambil baca fakta menarik Cup of tea kali ini. Gimana kalau kita ngobrolin Desa Kasuran? Sebuah desa kecil yang memiliki tradisi unik dan benar-benar berbeda. Di sini tidur di kasur justru dilarang! 

Jangan salah sangka dulu, mereka bukan anti-kasur atau tidak tahu apa itu kenyamanan tidur. Justru, larangan ini menjadi bagian dari budaya dan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Yuk, kita simak penjelasannya!

Desa Kasuran merupakan desa yang terletak di wilayah Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang terbagi menjadi dua, yaitu Desa Kasuran Wetan (Timur) dan Desa Kasuran Kulon (Barat). Desa berpenduduk 1603 jiwa ini sudah tersorot oleh banyak orang karena keunikannya yang mana mayoritas warganya tidak menggunakan kasur sebagai alas tidur.

Sumber: paragram.id

Fenomena ini bermula dari beberapa mitos yang secara turun-temurun tersebar di Desa Kasuran. Menurut mitos versi Islam, dikisahkan pada zaman dahulu Sunan Kalijaga datang ke Desa Kasuran dan memberi pesan kepada Kiai Kasur dan Nyai Kasur. 

Pesan tersebut berbunyi “Anak cucu saya jangan tidur di kasur. Boleh tidur di kasur kalau kesaktiannya sudah sepadan atau melebihi saya”.

Mitos kedua, dikatakan bahwa fenomena ini justru muncul setelah perang Diponegoro. Pada saat itu, Desa Kasuran dijadikan tempat persembunyian oleh pasukan dan keluarga Pangeran Diponegoro, sehingga warga desa tersebut bersumpah bahwa mereka tidak akan hidup enak sebelum semua kemalangan mereka berakhir.

Lalu, bagaimana kalau pantangan tersebut dilanggar? Dalam artikel ilmiah “Kasuran Dalam Beragam Sudut Pandang Menurut Jejak-Jejak Cerita Tidur Tanpa Kasur di Desa Kasuran”, dikatakan sejak zaman dahulu, dipercaya barangsiapa yang melanggar larangan ini niscaya akan menerima kutukan.

Contohnya adalah pengalaman Wartillah, Kepala Desa Kasuran, yang mendengar terjadi berbagai kejadian aneh dari warganya yang nekat melanggar aturan tersebut. Salah satu warga protes dan kekeh mengatakan, pantangan ini hanya omong kosong yang dibuat-buat orang zaman dahulu. Namun, beberapa bulan kemudian warga tersebut meninggal tanpa sebab.

Meskipun terdengar unik dan mungkin sedikit “aneh” bagi sebagian orang, tradisi ini justru mencerminkan kedalaman budaya dan filosofi hidup yang mengutamakan kesederhanaan. Jika suatu saat kamu berkesempatan untuk berkunjung ke Desa Kasuran, jangan ragu untuk merasakan sendiri bagaimana kehidupan yang lebih sederhana itu dapat membawa kedamaian. Siapa tahu, kamu juga bisa menemukan kenyamanan dengan cara yang paling tak terduga! 

Sumber:

Cresswell, J. W. (2015). Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Qudsy, S. Z. (2015). Kasuran Dalam Beragam Sudut Pandang Menurut Jejak-Jejak Cerita Tidur Tanpa Kasur di Desa Kasuran. KAWISTARA, 99-220.