Melanglang Lewat Suara, Historia Radio Dalam Resonan Masa ke Masa

Sumber: Pinterest

Radio merupakan salah satu old media yang sampai sekarang masih bisa kita dengar dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya. Penyampaian pesan yang dimuat di radio tentunya sudah menyesuaikan zaman dan menyesuaikan minat dari para audiens. Lalu, bagaimana radio tempo dulu bersuara di Indonesia?

Sebelum kemerdekaan diraih, radio sudah memasuki Indonesia melalui radio kepunyaan perusahaan swasta Belanda di tahun 1925, yakni Bataviasche Radio Vereeniging (BRV), BRV inilah yang menjadi radio penyiaran pertama di Indonesia. Namun, fokus dari penyiaran radio terbagi menjadi dua. Fokus editorial radio yang dikelola oleh Belanda menitikberatkan kepada isu-isu atau ke kebudayaan barat. Sedangkan, Radio Ketimuran yang dikelola oleh rakyat Indonesia berhaluan kepada peningkatan kebudayaan tradisional daerah di Indonesia. 

Radio diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia melalui Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Sri Mangkoenegoro VII. Saat itu, di tahun 1927, Ia diberikan hadiah berupa pesawat radio penerima (receiver) yang kemudian pada 31 Maret di tahun yang sama, pesawat radio tersebut digunakan pertama kali nya untuk mendengarkan broadcast langsung dari Ratu Wilhelmina dari Kota Eindhoven, Belanda. 

Mengingat kembali mengenai Radio Ketimuran, di tanggal 1 April 1933 Solosche Radio Vereeniging (SRV) yakni sebuah sistem penyiaran radio di kota Solo hadir sebagai rintisan dari KGPAA Sri Mangkoenegoro VII. Pengurus SRV juga menjadi prakarsa beberapa radio ketimuran lain, seperti Radio Semarang, VORO Jakarta, VORS dan CIRVO Surabaya, serta VORL Bandung. Menaiki setiap tangga tahapan, jaringan Radio Ketimuran akhirnya membentuk Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK), yang kemudian bekerja sama dengan Belanda dalam bidang politik dan ekonomi. Akan tetapi, tujuan Radio Ketimuran tetap kepada memuliakan dan mengembangkan kesenian budaya timur.

Salah satu radio monumental yang dimiliki oleh Indonesia adalah Radio Republik Indonesia (RRI), didirikan pada 11 September 1945 dengan diketuai oleh Dr. Abdulrahman Saleh. RRI menjadi media informasi sekaligus perlawanan rakyat Indonesia, RRI juga berupaya agar masyarakat Indonesia tidak buta terhadap kondisi dan urgensi kala itu.

Berdirinya RRI harus melewati tantangan dari perkembangan radio milik Belanda dan Jepang yang pada saat itu fungsinya mengampanyekan propaganda Jepang kepada masyarakat Indonesia. Kini, RRI masih menyiarkan suara nya dalam bungkus pendidikan, hiburan, pelayanan informasi, kontrol dan perekat sosial, serta pelestarian budaya Indonesia.

Dalam perkembangannya, radio selalu melakukan improvement yang menyesuaikan zaman. Tak lagi terbatas pada radio kotak dan antena sinyal, sekarang radio bisa diakses melalui streaming pada beberapa platform musik digital yang tentunya akan menjangkau lebih luas audiens dan meningkatkan jumlah pendengar.

11 September 2024, Selamat Hari Radio Nasional!

Sumber Berita:

Nama Penulis: Nadya Bella Arthamevira 

Nama Editor: Nawal Najiya Rasya