Serang – Dinamika gerakan mahasiswa di Banten kembali menjadi sorotan setelah sejumlah aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dari universitas di daerah tersebut saling bertabrakan di tempat yang sama (12/03/2024). Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang konsolidasi dan kolaborasi antar aliansi mahasiswa di Banten.
Ketua Presiden Mahasiswa Untirta, Gymnastiar Hamdani, menyatakan bahwa terpecahnya aksi bukanlah persoalan besar, mengingat isu yang diangkat oleh masing-masing aliansi dapat berbeda. Namun, ia menegaskan pentingnya koordinasi di antara mahasiswa untuk tetap bergerak. “Mahasiswa harus sama-sama bergerak. Justru yang harus dipersoalkan adalah kampus yang tidak bergerak sama sekali,” ujar Gymnastiar (10/03/2024).
Sementara itu, Ketua Presiden Mahasiswa Dema UIN, Bagas Yulianto, mengungkapkan bahwa hambatan utama dalam konsolidasi dan kolaborasi antar universitas atau aliansi adalah egosentris dari masing-masing pihak. “Hambatan paling sederhana adalah egosentris dari masing-masing aliansi,” kata Bagas (11/03/2024)
Menanggapi fenomena ini, pengamat politik, Rizky Godjali menjelaskan bahwa pembelahan dalam gerakan mahasiswa adalah suatu hal yang lumrah, mengingat setiap kelompok mahasiswa memiliki orientasi dan pandangan yang berbeda terhadap suatu isu. Namun, Godjali juga menyoroti peluang adanya motif politik atau kepentingan tertentu yang mungkin mendorong terpecahnya demo antar universitas di Banten, “Peluang kepentingan politik itu ada, tetapi seharusnya gerakan mahasiswa tetap berada pada garda terdepan dalam memperjuangkan kebenaran,” tuturnya (11/03/2024).
Godjali juga mengamati bahwa konflik antar kelompok mahasiswa bisa timbul akibat perbedaan orientasi dan pandangan, namun ia menekankan bahwa konflik tersebut seharusnya dapat dihindari, terutama konflik fisik di lapangan. “Konflik adalah ujung dari perbedaan yang ada, tapi konflik bisa dilihat secara positif dan negatif,” ujarnya.
Meskipun terdapat tantangan dan hambatan, baik dari sudut pandang mahasiswa maupun pengamat politik, upaya untuk menyatukan aksi-aksi mahasiswa dari berbagai universitas di Banten tetap menjadi harapan. Potensi dampak positif dari kesatuan dalam aksi demo, seperti yang dijelaskan oleh Gymnastiar, menjadi motivasi untuk terus mencari cara mengatasi perbedaan dan menciptakan kerjasama yang lebih baik.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Gymnastiar berharap agar seluruh mahasiswa tetap konsisten dalam bergerak dan menyuarakan aspirasi, “Harapan kedepan pastinya saya ingin seluruh mahasiswa tetap konsisten dalam bergerak atau menyuarakan aspirasi, tidak boleh berhenti karena sejatinya kampus harus menjadi menara api untuk menerangi masyarakat,” ucapnya.
Dengan berbagai pandangan dan harapan dari berbagai pihak, langkah-langkah untuk memperkuat kolaborasi antar aliansi mahasiswa di Banten menjadi penting dalam memperjuangkan kebenaran dan kepentingan masyarakat. Sebagaimana diungkapkan oleh Rizky Godjali, “Perlunya isu musuh bersama sebagai sarana untuk menyatukan berbagai gerakan mahasiswa. Peluang untuk mempengaruhi gerakan mahasiswa dengan memecah belah harus dihindari. Kita harus mengelola momentum ini dengan baik karena kekuatan politik pemuda dan mahasiswa dapat memberikan solusi bagi masyarakat.”
Penulis: Jiya
Editor: Ira, Nahser