Sebagai provinsi yang terletak di ujung barat Pulau Jawa, Banten kaya akan tradisi yang mencerminkan kearifan lokal serta nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang tetap lestari hingga kini adalah Ngadongkapkeun, sebuah tradisi yang mengandung makna mendalam tentang silaturahmi, penghormatan kepada leluhur, serta kebersamaan dalam keluarga. Tradisi ini umumnya dilakukan saat Idulfitri, di mana masyarakat, terutama generasi muda, datang untuk bersilaturahmi, meminta doa restu, serta mempererat hubungan kekeluargaan.
Ngadongkapkeun bukan sekadar serangkaian ritual, tetapi juga wujud nyata dari perpaduan ajaran Islam dengan kearifan lokal. Tradisi ini diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banten. Setiap tahunnya, warga berkumpul untuk berdoa bersama, bersyukur atas berkah Ramadan, serta meminta maaf dan restu dari orang tua maupun para tetua kampung.
Pelaksanaan tradisi Ngadongkapkeun dimulai setelah Salat Idulfitri. Biasanya, warga berkumpul di tempat terbuka atau masjid untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh Kokolot Lembur (tetua kampung). Dalam doa tersebut, masyarakat memanjatkan rasa syukur atas nikmat Ramadan yang telah dijalani serta memohon keberkahan di hari yang fitri. Setelah doa bersama, tradisi ini dilanjutkan dengan sungkeman.
Sungkeman merupakan bagian dari tradisi Ngadongkapkeun yang melambangkan penghormatan dan permohonan maaf, terutama dari yang lebih muda kepada yang lebih tua. Kebiasaan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri, yang mana anak-anak bersimpuh di hadapan orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua, mencium tangan mereka sebagai tanda bakti dan terima kasih atas bimbingan serta kasih sayang yang telah diberikan.
Dalam prosesi ini, orang tua duduk di tempat yang lebih tinggi sebagai simbol penghormatan, sementara anak berjongkok dengan kepala menunduk dan tangan mengapit tangan mereka. Sungkeman menjadi simbol penyesalan, penghormatan, serta penguatan hubungan kekeluargaan yang diwariskan turun-temurun.
Setelah sungkeman, tradisi ini dilanjutkan dengan penyajian sesaji yang telah didoakan. Sesaji ini disiapkan dalam jumlah ganjil dan terdiri dari berbagai hidangan sederhana, seperti makanan kecil, air putih, serta kopi. Ritual ini mencerminkan penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur yang mendalam atas berkah yang telah diterima.
Ngadongkapkeun bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga warisan budaya yang sarat akan nilai-nilai luhur. Tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa syukur, penghormatan kepada orang tua, serta kebersamaan dalam masyarakat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, pelestarian tradisi seperti Ngadongkapkeun menjadi tantangan tersendiri. Jika tidak dijaga, generasi muda bisa saja semakin jauh dari akar budayanya. Oleh karena itu, perlu ada upaya bersama untuk mempertahankan tradisi ini, baik melalui pendidikan dan budaya di keluarga maupun kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat. Dengan demikian, Ngadongkapkeun akan tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas masyarakat Banten.
Penulis : Elsa Loenita Damayanti
Editor : Muthia Zahra