Pahlawan Revolusi: Pierre Sang Patriot

Gambar: Pinterest

Kali ini Cup Of Tea akan membawa kamu ke sebuah buku yang berjudul “Sang Patriot”, mengisahkan perjalanan hidup Pierre Tendean, seorang pahlawan revolusi yang penuh semangat dan keberanian. Dalam buku ini menceritakan kisah hidup Pierre Tendean, mulai dari kelahirannya hingga kematiannya. Kisahnya mencakup masa remaja, karir militer, dan kisah cintanya dengan Rukmini. Buku ini berisi keterangan dari anggota Gerwani yang terlibat dalam penyiksaan terhadap perwira Angkatan Darat. Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto dan hasil visum dari keluarga Tendean.

Pierre Andries Tendean seorang anak keturunan Prancis-Minahasa. Ayah dari Pierre Tendean adalah seorang dokter spesialis jiwa bernama Aurelius Lammert (A.L) Tendean dan ibunya adalah Maria Elizabeth Cornet seorang wanita dari negeri Belanda yang memiliki keturunan darah Prancis. Pierre memiliki kakak yang bernama Mitzi Farre dan adik yang lahir lima tahun setelah Pierre yaitu Rooswidiati.

Ayah Pierrre Tendean berharap putranya akan mengikuti jejaknya sebagai dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sementara ibunya ingin Pierre mengejar karir di Fakultas Teknik di Institut Teknologi Bandung. Disisi lain hati sang patriot sangat tertarik pada dunia militer dan memiliki tekad untuk menjadi seorang tentara.

Pada tanggal 15 April 1965, Pierre resmi menjadi ajudan Menko Hankam/Kasab dengan pangkat letnan dua. Dia kemudian dipromosikan menjadi letnan satu TNI. Selama bertugas, Pierre sering menghabiskan waktu dengan keluarga Jenderal A.H. Nasution. Tidak jarang Pierre sering menemani Ade Irma, anak bungsu Jenderal A.H. Nasution untuk bermain. Dia juga sering bercerita tentang kekasihnya, Rukmini, yang awalnya memiliki perbedaan keyakinan agama, tetapi Pierre setuju untuk pindah agama.

Pada 30 September 1965, Pierre mengambil cuti untuk pulang ke Semarang merayakan ulang tahun ibunya,  Maria Elizabeth Tendean. Namun sayangnya sebelum sempat berpulang, pada 1 Oktober 1965 dini hari rumah Jenderal Nasution dikepung oleh pasukan Tjakrabirawa. Jenderal Nasution melarikan diri dan Pierre diculik karena pasukan tersebut tidak mengenalinya sebagai ajudan Nasution. Pierre diculik saat mengenakan baju kuning tua dan celana coklat. Alpiah, pengasuh Ade Irma, memberikan kesaksian bahwa Pierre dibawa oleh pasukan Tjakrabirawa setelah Ia menyatakan bahwa Ia adalah ajudan Nasution.

Di Lubang buaya akhirnya pasukan tersebut menyadari bahwa mereka salah tangkap. Namun, melihat wajah Pierre yang kebarat-baratan, mereka menganggap Pierre keturunan penjajah yang tentu saja hal ini membuat mereka semakin naik pitam dan menghabisinya. Pierre dimakamkan pada tanggal 5 Oktober 1965 di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Putri bungsu Jenderal A.H Nasution, Ade Irma Suryani juga menjadi korban dalam peristiwa G30S/PKI.

Penulis: Alisha

Editor: Jiya