Affiliate marketing tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis digital. Sistemnya yaitu seseorang atau perusahaan mempromosikan produk atau layanan milik pihak lain dan mendapatkan komisi untuk setiap penjualan atau tindakan yang dihasilkan melalui upaya mereka. Strategi pemasaran ini sering memanfaatkan platform digital seperti situs web, blog, media sosial, dan aplikasi marketplace untuk menyebarkan tautan afiliasi, yang ketika diklik dan menghasilkan penjualan, memberikan penghasilan kepada afiliasi. Apa sebenarnya yang membuat affiliate marketing begitu menarik? Mari telusuri lebih dalam pemasaran modern yang sedang hits ini.
Menurut dosen mata kuliah Integrated Marketing Communications (IMC), Ivan Issa Fathony, affiliate marketing bisa disederhanakan sebagai bentuk “reseller” atau “calo”. Praktik ini menjadi populer karena melibatkan media-media baru seperti marketplace dan berbagai aplikasi media digital. Ivan menjelaskan bahwa perkembangan di dunia marketing ini sangat positif sebab membuka peluang baru bagi banyak orang.
“Dengan adanya kemudahan teknologi, terdapat terobosan-terobosan baru. Bagi mereka yang mungkin tidak punya modal untuk pemasaran, dengan ikut affiliate marketing, mereka justru bisa mendapatkan komisi dari hasil penjualan,” tambahnya saat diwawancarai secara langsung (6/6/2024).
Perubahan ini disebut Ivan sebagai mediamorfosis, yaitu pergeseran dari media konvensional ke media digital yang diikuti dengan inovasi dalam bidang marketing. Intinya, adanya affiliate marketing itu disebabkan oleh perkembangan teknologi yang memungkinkan para pemasar terus berinovasi dari metode konvensional ke digital. Ia juga menyoroti bahwa affiliate marketing menawarkan daya tarik tersendiri karena visualisasinya yang kuat. Dalam dunia digital, affiliate marketing seringkali menggunakan video atau demo produk yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dengan sangat efektif.
“Praktik reseller atau calo seperti ini sekarang sudah ada dalam bentuk affiliate marketing. Mungkin beberapa tahun ke depan, dengan perkembangan teknologi yang lebih mutakhir, akan ada inovasi-inovasi baru seperti calo online atau yang lainnya. Yang jelas, perkembangan teknologi terus bergerak maju dan banyak inovasi yang memungkinkan affiliate marketing terus berkembang. Saat ini, affiliate marketing hanya berbentuk video atau link, namun ke depannya, kemudahan-kemudahan lain akan mengikuti perkembangan teknologi khususnya dalam pemasaran,” jelas Ivan.
Namun, Ivan juga mencatat beberapa kekurangan dalam affiliate marketing. “Persaingan menjadi jauh lebih ketat karena semua orang dari berbagai kalangan menggunakan media sosial atau aplikasi marketplace. Pendapatan juga menjadi tidak menentu karena persaingan tersebut. Dalam affiliate marketing, inovasi dan strategi harus terus ditingkatkan agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Dengan demikian, meski menghadapi tantangan, affiliate marketing tetap menawarkan peluang besar bagi mereka yang siap berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2023, Uzma Amalia, pernah mencoba peruntungan sebagai seorang affiliator. Dalam wawancara via WhatsApp (10/6/2024), ia berbagi pengalaman dan pandangan terkait industri affiliate marketing yang sedang berkembang.
Ketika ditanya apa yang mendorongnya terlibat dalam affiliate marketing, Uzma menjelaskan bahwa tujuannya adalah membantu SCHverse dalam pemerataan akses pendidikan. “Pertama, kita dijelasin dulu tentang flow marketing untuk SCH affiliate ini dan produk apa saja yang akan ditawarkan. Pembagian hasil komisinya pun dijelaskan. Setelah penjelasan itu, kita dibebaskan untuk memposting di mana pun tanpa ada target sama sekali,” jelas Uzma mengenai pengalamannya di awal industri ini.
Uzma menemukan bahwa strategi yang paling efektif dalam mempromosikan produk melalui affiliate marketing adalah dengan menggunakan caption yang menarik. Tetapi nyatanya perjalanan sebagai affiliator tidak selalu mulus, ia menghadapi tantangan besar karena produk yang dipromosikannya baru dan banyak tempat bimbingan belajar yang lebih terkenal. “Peminatnya kurang banyak. Aku mengatasinya dengan promosi aja tanpa terlalu memikirkan hal itu,” ungkapnya.
Saat ditanya tentang penghasilan, Uzma dengan jujur mengakui bahwa selama menjadi affiliator belum menghasilkan apa pun dikarenakan tidak berhasil membawa pembeli. Apalagi pada waktu itu ia sedang fokus belajar untuk SNBT sehingga tidak terlalu fokus dengan pekerjaan ini.
Meski begitu, Uzma memiliki pandangan positif tentang masa depan affiliate marketing. “Menurutku affiliate ini menjanjikan dan mempermudah siapa pun untuk mendapatkan penghasilan,” tutupnya. Ia melihat peluang besar bagi generasi muda yang tertarik untuk menjadi affiliator, tentunya dengan potensi penghasilan yang bisa diraih melalui strategi pemasaran yang tepat dan konsistensi dalam promosi.
Penulis: Salma
Editor: Ira