Pergeseran arah kebijakan ekonomi antara Sri Mulyani Indrawati dan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan publik setelah muncul perbedaan pendekatan dalam mengelola fiskal negara. Di tengah tekanan ekonomi global yang melemah, dua gaya kebijakan tersebut mencerminkan dua jalan berbeda untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Sri Mulyani dikenal dengan pendekatan fiskal yang ketat dan efisien. Ia menekankan pentingnya quality spending atau belanja pemerintah yang berorientasi pada hasil serta menjaga defisit di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selama kepemimpinannya, kebijakan ini dinilai berhasil menjaga kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia. Dalam laporan The Jakarta Post (2025), Sri Mulyani menyebut inflasi Indonesia sebagai salah satu yang paling rendah di antara negara ASEAN dan G20, mencerminkan hasil dari kebijakan fiskal yang disiplin dan terukur.
Sebaliknya, Purbaya Yudhi Sadewa yang menggantikan posisi Menteri Keuangan pada pertengahan 2025 menampilkan pendekatan berbeda. Ia mendorong percepatan belanja publik yang ekspansif, tetapi tetap menekankan pentingnya kehati-hatian. Dalam wawancaranya dengan Antara News (2025), Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengambil langkah fiskal yang berisiko terhadap stabilitas pasar dan ekspansi belanja hanya dilakukan untuk mempercepat transmisi ekonomi ke sektor riil.
Menanggapi hal tersebut, dosen ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Stania Cahaya Suci, menilai kedua pendekatan tersebut sama-sama relevan, tergantung konteks yang dihadapi. Ia menyebut bahwa dalam kondisi pelemahan ekonomi global seperti sekarang, kebijakan percepatan belanja publik dapat menjadi strategi yang tepat selama tetap diarahkan pada sektor produktif dan mempertahankan disiplin fiskal.
Menurut Stania, konsep quality spending ala Sri Mulyani tetap relevan karena ruang fiskal Indonesia terbatas. Dengan menjaga efisiensi, pemerintah bisa memanfaatkan momentum pasar yang kondusif untuk membiayai belanja dengan biaya rendah sambil mempertahankan kredibilitas fiskal di mata investor global. Sementara itu, pendekatan Purbaya yang mendorong percepatan belanja publik dapat memperkuat transmisi ekonomi, terutama jika diarahkan pada sektor dengan multiplier effect tinggi.
Stania menjelaskan bahwa sektor yang paling layak menjadi prioritas dalam kebijakan fiskal ekspansif adalah sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta rantai pasok pangan.
“UMKM masih menyumbang lebih dari 90 persen unit usaha dan tenaga kerja di Indonesia, sementara sektor pangan berperan penting menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Orange Via WhatsApp (30/10/25).
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara penguatan rantai pasok pangan dan pemberdayaan UMKM dapat menciptakan stabilitas harga sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Menurutnya, ekspansi fiskal yang dijalankan Purbaya dapat efektif selama tetap menjaga batas defisit 3 persen dari PDB, akuntabilitas sosial, dan transparansi anggaran.
Ketika diminta menilai kebijakan yang paling sesuai dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, Stania berpandangan bahwa ekspansi fiskal lebih tepat diterapkan.
“Pertumbuhan yang melambat membutuhkan dorongan melalui belanja pemerintah yang produktif. Dengan konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB, ekspansi fiskal bisa menjadi penggerak daya beli,” tuturnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan fiskal ekspansif tetap perlu diimbangi pengawasan ketat agar tidak kehilangan arah. Pemerintah harus memastikan belanja publik benar-benar berbasis outcome dan bukan sekadar menambah angka dalam anggaran. Transparansi, evaluasi berkala, serta pengelolaan risiko fiskal harus menjadi bagian dari tata kelola yang berkelanjutan.
Pergeseran arah kebijakan fiskal ini menunjukkan bagaimana Indonesia menavigasi dua kepentingan besar, yaitu menjaga kredibilitas fiskal, sekaligus memacu pertumbuhan. Pendekatan efisien ala Sri Mulyani menekankan kehati-hatian dan keberlanjutan, sedangkan pendekatan ekspansif ala Purbaya berfokus pada stimulus jangka pendek yang bisa mendorong perekonomian keluar dari perlambatan. Pada akhirnya, keduanya saling melengkapi dalam mencari keseimbangan antara disiplin dan dorongan pertumbuhan.
Penulis: Angeli Ramadhani
Editor: Muthia Zahra